Definisi Lintas Budaya, Tujuan dan Aplikasi Psikologi Lintas Budaya, Hubungan Psikologi Lintas Budaya Dengan Disiplin Ilmu Lainnya, Hubungan Psikologi dan Budaya, Metodologi Penelitian Psikologi Lintas Budaya, Psikologi Lintas Budaya Dalam Konteks Ke Indonesiaan, Akulturasi dan Kontak Budaya, Budaya dan Emosi Manusia, Budaya dan Kepribadian Manusia, Budaya dan Pengembangan Manusia, Budaya dan Proses-Proses Dasar Psikologi, Budaya dan Perilaku Sosial, Menelusuri Masalah Lintas Budaya, Strategi-Strategi Penelitian, Menerapkan Temuan-Temuan Penelitian Secara Lintas Budaya

MATERI 1
Definisi Lintas Budaya
Matsumoto, (2004) : Dalam arti luas, psikologi lintas budaya terkait dengan pemahaman atas apakah kebenaran dan prinsip-prinsip psikologis bersifat universal (berlaku bagi semua orang di semua budaya) ataukah khas budaya (culture spscific, berlaku bagi orang-orang tertentu di budaya-budaya tertentu)
Seggal, Dasen, dan Poortinga (1990) : psikologi lintas budaya adalah kajian ilmiah mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk, dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya.
Triandis, Malpass, dan Davidson (1972) : psikologi lintas budaya mencakup kajian suatu pokok persoalan yang bersumber dari dua budaya atau lebih, dengan menggunakan metode pengukuran yang ekuivalen, untuk menentukan batas-batas yang dapat menjadi pijakan teori psikologi umum dan jenis modifikasi teori yang diperlukan agar menjadi universal.
Brislin, Lonner, dan Thorndike, (1973) : menyatakan bahwa psikologi lintas budaya ialah kajian empirik mengenai anggota berbagai kelompok budaya yang telah memiliki perbedaan pengalaman, yang dapat membawa ke arah perbedaan perilaku yang dapat diramalkan dan signifikan.

Objek Kajian Lintas Budaya
Istilah “cross-cultural studies” muncul dalam ilmu-ilmu sosial pada tahun 1930-an yang terinspirasi oleh cross-cultural survey yang dilakukan oleh George Peter Murdock, seorang antropolog dari Universitas Yale. Istilah ini pada mulanya merujuk pada kajian-kajian komparatif yang didasarkan pada kompilasi data-data kultural. Namun istilah itu perlahan-lahan memperoleh perluasan makna menjadi hubungan interaktif antar individu dari dua atau lebih kebudayaan yang berbeda (Wikipedia, 2008c). Kajian perbandingan di bidang politik, ekonomi, komunikasi, sosiologi, teori media, antropologi budaya, filsafat, sastra, linguistik dan musik (ethnomusicology) merupakan beberapa bentuk kajian dalam konteks ini. Dalam konteks pengertian kedua, penelitian lintas budaya diarahkan pada kajian tentang berbagai bentuk interaksi antara individu-individu dari berbagai kelompok budaya yang berbeda. Kajian lintas budaya dalam perspektif ini mengambil interaksi manusia sehari-hari sebagai bagian dari budaya yang perlu dicermati karena, sebagaimana halnya dengan pemahaman antropologis yang memandang budaya sebagai keseluruhan cara hidup (way of life).
Penggunaan kata majemuk ‘studies’ dalam penamaan crosscultural studies menyiratkan sikap dan ‘positioning’ para penggagas yang tidak puas terhadap kondisi ilmu pengetahuan di era modern yang terkotak-kotak dan saling mengklaim kebenaran. Padahal lambat laun disadari bahwa kebenaran yang dihasilkan disiplin ilmu pengetahuan secara sendiri-sendiri bersifat parsial dan tidak mampu menjawab persoalan-persoalan di kalangan masyarakat secara komprehensif. Kondisi inilah yang mendorong ilmuwan memasukkan kontribusi teori maupun metode dari berbagai disiplin ilmu yang dipandang strategis untuk memahami fenomena-fenomena kultural dalam realita kehidupan masyarakat manusia maupun representasinya yang dipandang krusial dalam kehidupan masyarakat.

MATERI 2
Tujuan dan Aplikasi Psikologi Lintas Budaya
Pengetahuan dan teori psikologis yang ada. Tujuan ini pernah diuraikan oleh J.W. Whiting (1968). Ia mengatakan bahwa kita menggunakan psikologi lintas budaya melaui penggunaan data “beragam orang dari seantero dunia semata-mata untuk menguji hipotesis-hipotesis yang berhubungan dengan prilaku manusia. Tujuan dari lintas-budaya psikolog adalah untuk melihat manusia dan perilakunya dengan kebudayaan yang ada sangat beragam dengan kebudayaan yang ada disekitar kita . untuk melihat kedua perilaku universal dan perilaku yang unik untuk mengidentifikasi cara di mana budaya dampak perilaku kita, kehidupan keluarga, pendidikan, pengalaman sosial dan daerah lainnya.

MATERI 3
Hubungan Psikologi Lintas Budaya Dengan Disiplin Ilmu Lainnya
Hubungan Psikologi Lintas Budaya Dengan Disiplin Ilmu Lainnya
@ Antropologi dengan Psikologi Lintas Budaya.
Sementara psikologi lintas-budaya dan antropologi sering tumpang tindih, baik disiplin cenderung memfokuskan pada aspek yang berbeda dari suatu budaya. Sebagai contoh, banyak masalah yang menarik bagi psikolog yang tidak ditangani oleh antropolog, yang memiliki masalah mereka sendiri secara tradisional, termasuk topik-topik seperti kekerabatan, distribusi tanah, dan ritual.
@ Kepribadian dengan Psikologi Lintas Budaya.
Kepribadian merupakan konsep dasar psikologi yang berusaha menjelaskan keunikan manusia. Kepribadian mempengaruhi dan menjadi kerangka acuan dari pola pikir dan perilaku manusia, serta bertindak sebagi aspek fundamental dari setiap individu yang tak lepas dari konsep kemanusiaan yang lebih nesar, yaitu budaya sebagai konstuk sosial. Menurut Roucek dan Warren, kepribadian adalah organisasi yang terdiri atas faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis. Hal pertama yang menjadi perhatian dalam studi lintas budaya dan kepribadian adalah perbedaan diantara keberagaman budaya dalam memberi definisi kepribadian. Dalam literature-literatur Amerika umumnya kepribadian dipertimbangkan sebagai perilaku, kognitif dan predisposisi yang relatif abadi. Definisi lain menyatakan bahwa kepribadian adalah serangkaian karakteristik pemikiran, perasaan dan perilaku yang berbeda antara individu dan cenderung konsisten dalam setiap waktu dan kondisi.

Persamaan dan Perbedaan Dalam Perilaku Lintas Budaya
Indigenous Psychology (psikologi indigenous) merupakan suatu terobosan baru dalam dunia psikologi yang mana merupakan suatu untuk memahami manusia berdasarkan konteks kultural/budaya (Understanding People in Context). Indigenous psychology dapat juga didefinisikan sebagai pandangan psikologi yang asli pribumi dan memiliki pemahaman mendasar pada fakta-fakta atau keterangan yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan setempat.
Indigenous psychology dianggap penting sejak munculnya teori-teori psikologi yang ingin bisa diberlakukan secara universal, tidak hanya di Eropa dan Amerika Utara saja. Tujuan ataupun goal dari indigenous psychology ini adalah untuk membuat science lebih teliti, sistematis dan universal yang secara teori maupun empirik bisa dibuktikan dimana pun berada.
Perbedaannya : Psikologi Lintas Budaya kajian mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Sedangkan Psikologi Indigenous adalah bidang psikologi yang memahami manusia berdasarkan konteks/kultur budaya.
@ Perbedaan Psikologi Lintas Budaya dan Psikologi Budaya
Psikologi lintas budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik.
Perbedaannya : Psikologi lintas budaya juga mempelajari persamaan serta perbedaan di setiap individu du berbagai budaya, sedangkan psikologi budaya hanya melihat perilaku seseorang sesuai dengan budayanya
@ Perbedaan Psikologi Lintas Budaya dan Antropologi
Psikologi lintas budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik. Mengenai hubungan-hubungan di antara ubahan psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam ubahan-ubahan tersebut.
Perbedaannya : Psikologi Lintas Budaya kajian mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Sedangkan antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang segala aspek dari manusia, yang terdiri dari aspek fisik dan nonfisik.

MATERI 4
Hubungan Psikologi dan Budaya
Pada awal perkembangannya, ilmu psikologi tidak menaruh perhatian terhadap budaya. Baru sesudah tahun 50-an budaya memperoleh perhatian. Namun baru pada tahun 70-an ke atas budaya benar-benar memperoleh perhatian. Pada saat ini diyakini bahwa budaya memainkan peranan penting dalam aspek psikologis manusia. Oleh karena itu pengembangan ilmu psikologi yang mengabaikan faktor budaya dipertanyakan kebermaknaannya. Triandis (2002) misalnya, menegaskan bahwa psikologi sosial hanya dapat bermakna apabila dilakukan lintas budaya. Hal tersebut juga berlaku bagi cabang-cabang ilmu psikologi lainnya.
Ratusan definisi budaya yang ada tidak bisa dianggap yang satu lebih benar daripada yang lainnya. Masing-masing definisi memiliki kekuatannya masing-masing. Oleh karena itu penggunaan definisi budaya semestinya dilihat dari tingkat kegunaannya bagi tujuan yang dikehendaki. Triandis (1994) mencontohkan dengan definisi budaya yang digunakan B.F. Skinner, seorang behavioris, yakni ‘budaya adalah seperangkat aturan penguatan (a set of schedules of reinforcement)’.

MATERI 5
Metodologi Penelitian Psikologi Lintas Budaya
Seperti telah disinggung sebelumnya, kajian lintas budaya mengambil interaksi sehari-hari manusia dengan latarbelakang kebudayaan berbeda sebagai bagian dari budaya yang perlu dicermati. Kajian lintas budaya dilandaskan pada asumsi dasar bahwa kontak, persinggungan atau pergesekan antar budaya yang memicu proses inkulturasi, akulturasi, asimilasi, dan sebagainya akan mengubah budaya asli. Melalui analisis bandingan terhadap berbagai unsur yang terlibat dalam kontak antar individu dengan kebudayaan berbeda diharapkan dapat menghasilkan: (1) generalisasi induk dan orisinalitas budaya, seperti tujuan penelitian Tylor dan antropolog lainnya; dan (2) pemahaman tentang proses evolusi dan difusi budaya, yang menjadi fokus utama kajian lintas budaya kontemporer.
Kajian yang diarahkan untuk mencapai tujuan pertama di atas dilandasi pada paham positivistik dan biasanya membutuhkan sampel yang cukup besar. Dengan menggunakan metode etnografis, data dijaring tidak hanya dari satu wilayah tetapi juga dari luar wilayah budaya yang bersangkutan. Kajian seperti inilah yang dilakukan Murdock (Wikipedia, 2008e) ketika dia mencoba mencari korelasi budaya hubungan kekerabatan patrilineal dan matrilineal. Dia mencari seberapa jauh korelasi antar variabel, seperti mata pencaharian, kemampuan membuat tembikar, menenun, keahlian sebagai tukang, dan stratifikasi sosial. Selanjutnya, dia mengkaji masalah “rasa tak sehat”, bahwa dalam kebudayaan di dunia ternyata “rasa tak sehat” berbeda dengan “rasa sakit”. Dari hasil-hasil analisi data, biasanya diperoleh kesimpulan tentang adanya “culture area”, atau sebuah golongan budaya berdasarkan wilayah geografisnya. Sebagai contoh, menurut Endraswara (dalam Prasetia, 2007), Wissler sempat membagi kebudayaan suku bangsa Indian menjadi sembilan culture area. Gagasan serupa tampaknya juga telah mempengaruhi peneliti budaya di Indonesia, sehingga ada etnografi Batak, etnografi Bugis, etnografi Jawa, etnografi Sunda, dan sebagainya.
Kajian yang diarahkan untuk mencapai tujuan kedua di atas menggunakan studi komparatif dalam rangka merekonstruksi kemiripan budaya, proses evolusi, serta transformasi budaya masa kini. Rekonstruksi akan menggambarkan aspek historis dan homogenitas. Tujuan yang dikejar adalah mencari kesamaan-kesamaan budaya pada masing-masing daerah. Untuk mencapai tujuan itu, perbadingan diarahkan pada tiga hal pokok: (1) persepsi, yaitu bagaimana tanggapan pelaku budaya satu dengan yang lain ketika menerima dan atau menolak budaya yang hadir, (2) kognisi, yaitu membandingkan pola pemikiran pendukung budaya masing-masing, (3) kepribadian dan jati diri, yaitu memban-dingkan kepribadian dan jati di pemilik budaya masing-masing.
1. Etnografi. Etnografi adalah penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan kebu¬dayaan sebagaimana adanya. Model ini berupaya mempelajari peristi¬wa kultural yang menyajikan pandangan hidup subyek sebagai obyek studi. Studi ini terkait dengan bagaimana subyek berpikir, hidup, dan berperilaku. tradisi yang ada.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah pengamatan berperan serta (partisipant observa¬tion). Sehubungan dengan itu, peneliti justru lebih banyak belajar dari pemilik kebudayaan, dan sangat respek pada cara mereka belajar tentang budaya. Etnografi pada hakikatnya bertujuan untuk menguraikan budaya tertentu secara holistik, yaitu aspek budaya baik spiritual maupun material. Uraian tersebut kemudian akan mengungkapkan pandangan hidup dari sudut pandang penduduk setempat. Selain analisis data yang dilakukan secara holistic–bukan parsial, ciri-ciri lainnya dari penelitian etnografi adalah: (a) sumber data bersifat ilmiah, artinya peneliti harus memahami gejala empirik (kenyataan) dalam kehidupan sehari-hari; (b) peneliti sendiri merupakan instrumen yang paling penting dalam pengumpulan data; (c) bersifat pemerian (deskripsi), artinya, mencatat secara teliti fenomena budaya yang dilihat, dibaca, lewat apa pun termasuk dokumen resmi, kemudian mengkombinasikan, mengabstrakkan, dan menarik kesimpulan; (d) digunakan untuk memahami bentuk-bentuk tertentu (shaping), atau studi kasus; (e) analisis bersifat induktif; (f) di lapangan, peneliti harus berperilaku seperti masyarakat yang ditelitinya; (g) data dan informan harus berasal dari tangan pertama; (h) kebenaran data harus dicek dengan dengan data lain (data lisan dicek dengan data tulis); (i) orang yang dijadikan subyek penelitian disebut partisipan (buku termasuk partisipan juga), konsultan, serta teman sejawat; (j) titik berat perhatian harus pada pandangan emik, artinya, peneliti harus menaruh perhatian pada masalah penting yang diteliti dari orang yang diteliti, dan bukan dari etik, (k) dalam pengumpulan data menggu¬nakan purposive sampling dan bukan probabilitas statistik; (1) dapat menggunakan data kualitatif maupun kuantitatif, namun sebagian besar menggunakan kualitatif.
Penentuan sampel pada penelitian kualitatif model etnografik, ada lima jenis yaitu: (1) seleksi sederhana, artinya seleksi hanya menggunakan satu kriteria saja, misalkan kriteria umur atau wilayah subyek; (2) seleksi komprehensif, artinya seleksi bedasarkan kasus, tahap, dan unsur yang relevan; (3) seleksi quota, seleksi apabila populasi besar jumlahnya, untuk itu populasi dijadikan beberapa kelompok misalnya menurut pekerjaan dan jenis kelamin; (4) seleksi menggunakan jaringan, seleksi menggunakan informasi dari salah satu warga pemilik budaya, dan (5) seleksi dengan perbandingan antarkasus, dilakukan dengan membandingkan kasus-kasus yang ada, sehingga diperoleh ciri-ciri tertentu, misalnya yang teladan, dan memiliki pengalaman khas.Dari lima cara tersebut, peneliti budaya model etnografi dapat memilih salah satu yang paling relevan dengan fenomena yang dihadapi. Meskipun demikian, seleksi secara komprehensif dipandang lebih akurat dibanding empat kriteria seleksi yang lain.
2. Kajian Folklore. Istilah folklor berasal dari kata folk, yang berarti ’kolektif’, dan lore, yang berrti ’tradisi’. Jadi, folklor adalah salah satu bentuk tradisi rakyat. Menurut Dundes (dalam Prasetia, 2007), folk adalah kelompok orang yang memiliki ciri-ciri pengenal fisik, sosial, dan kebudayaan, sehingga dapat dibedakan dari kelompok yang lainnya. Ciri fisik, antara lain berujud warna kulit. Hal ini berarti hubungan antara peneliti dan subjek penelitian sangat penting untuk menentukan keberhasilan penelitian. Jika hubungan terkesan kaku dan ada unsur kecurigaan, berarti ada tanda-tanda bahwa penelitian kurang berhasil.
3. Etnometodologi. Etnometodologi adalah metode kajian modern yang banyak diterapkan pada ilmu sosial. Namun, dalam kajian budaya metode ini sering digunakan. Etnometodologi dipelopori oleh Harold Garfinkel (Muhadjir, 2000:129). Model penelitian ini merupakan cara pandang kajian sosial budaya masyarakat sebagaimana adanya. Jadi, dasar filosofi metode penelitian ini adalah fenomenologi, yang memandang “pengertian dan penje¬lasan dari suatu realitas harus dibuahkan dari gejala realitas itu sendiri” (Aminuddin, 1990:108). Etnometodologi menitikberatkan bagaimana pendukung budaya memandang, menjelaskan, dan menggambarkan tata hidup mereka sendiri. Penelitian diarahkan untuk mengungkap bagaimana seorang individu maupun kelompok memahami kehidupannya. Subjek penelitian tak harus masyarakat terasing, melainkan masyarakat yang ada di sekitar kita.
4.Etnosains. Etnosains adalah salah satu teori penelitian budaya yang relatif baru. Kata etnosains berasal dari kata Yunani ethnos yang berarti ’bangsa’, dan Latin scientia artinya ’ilmu’. Jadi, secara etimologis etnosains berarti ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh suatu komunitas budaya, sedangkan dalam konteks kajian lintasbudaya, etnosains merupakan ilmu yang mempelajari atau mengkaji sistem pengetahuan dan tipe-tipe kognitif budaya tertentu. Tekanannya adalah pada pengetahuan asli dan khas suatu komunitas budaya. Pengumpulan data dalam etnisains tidak berbeda dengan penelitian etno¬grafi, yaitu dengan menggunakan pengamatan dan wawancara. Setelah data terkumpul, pengklasifikasian atau kategorisasi dapat dilakukan oleh peneliti. Kategorisasi tersebut sebaiknya ditunjukkan kepada infor¬man, dan kalau mungkin informan boleh ikut mengklasifikasikan sendiri. Justru klasifikasi informan ini yang lebih asli, dibanding peneliti.
5. Interaksionisme Simbolik. Interaksionisme Simbolik adalah salah satu model penelitian budaya yang berusaha mengungkap realitas perilaku manusia. Falsa¬fah dasar interaksionisme simbolik adalah fenomenologi. Namun, dibanding penelitian naturalistik dan etnografi yang juga memanfa-atkan fenomenologi, interaksionisme simbolik memiliki paradigma penelitian tersendiri. Perspektif interaksi simbolik berusaha memahami budaya lewat perilaku manusia yang terpantul dalam komunikasi. Interaksi simbolik lebih menekankan pada makna interaksi budaya sebuah komunitas. Makna esensial akan tercermin melalui komunikasi budaya antar warga setempat. Melalui premis dan proposisi dasar di atas, muncul tujuh prinsip interaksionisme simbolik, yaitu: (1) simbol dan interaksi menyatu. Karena itu, tidak cukup seorang peneliti hanya merekam fakta, melainkan harus sampai pada konteks; (2) karena simbol juga bersifat personal, diperlukan pemahaman tentang jati diri pribadi subyek penelitian; (3) peneliti sekaligus mengkaitkan antara simbol pribadi dengan komunitas budaya yang mengitarinya; (4) perlu direkam situ¬asi yang melukiskan simbol; (5) metode perlu merefleksikan bentuk perilaku dan prosesnya; (6) perlu menangkap makna di balik fenomena; (7) ketika memasuki lapangan, sekedar mengarahkan pemikiran subyek, akan lebih baik. Pemaknaan interaksi simbolik bisa melalui empat proses. Pertama, terjemahan (translation) yang dilakukan dengan cara mengalihbahasakan ungkapan penduduk asli menjadi tulisan. Kedua, aktivitas penafsiran yang dilakukan sesuai dengan latar belakang atau konteksnya, sehingga terangkum konsep yang jelas. Ketiga, ekstrapolasi, yang menggunakan kemampuan daya pikir manusia untuk mengungkap di balik yang tersaji. Keempat, kegiatan pemaknaan, yang menuntut kemam¬puan integratif inderawi, daya pikir, dan akal budi peneliti.
6. Grounded Theory. Grounded theory termasuk ragam. atau model penelitian dasar yang ingin mencari rumusan teori budaya berdasarkan data empirik. Dasar pemikiran model ini adalah simpulan secara induktif yang digunakan untuk sebuah teori. Dalam kaitannya dengan budaya, grounded theory merumuskan teori-teori baru tentang budaya atas dasar data berbentuk kenyataan Teori tersebut akan lebih mengakar pada budaya yang bersangkutan, karena lahir dari kebudayaan tersebut, dan kelak bisa dimanfaatkan ulang untuk kebudayaan tersebut.
MATERI 6
Psikologi Lintas Budaya Dalam Konteks Ke Indonesiaan
Psikologi lintas budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan-hubungan di antara ubaha psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam ubahan-ubahan tersebut.
Salah satu definisi konsep budaya adalah yang dikemukakan Koentjaraningrat (2002) yang mendefinisikannya sebagai seluruh total dari pikiran, karya, dan hasil karya manusia yang tidak berakar kepada nalurinya, dan yang karena itu hanya bisa dicetuskan oleh manusia sesudah proses belajar. Koentjaraningrat (2002) memecahnya ke dalam 7 unsur, yakni sistem religi dan upacara keagamaan, sistem dan organisasi kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian hidup dan sistem teknologi dan peralatan. Ketujuh unsur itulah yang membentuk budaya secara keseluruhan.
Tujuan dari psikologi lintas budaya adalah untuk melihat manusia dan perilakunya dengan kebudayaan yang ada sangat beragam dengan kebudayaan yang ada disekitar kita . untuk melihat kedua perilaku universal dan perilaku yang unik untuk mengidentifikasi cara di mana budaya dampak perilaku kita, kehidupan keluarga, pendidikan, pengalaman sosial dan daerah lainnya.
Menurut Matsumoto (1996) etnosentrisme adalah kecenderungan untuk melihat dunia hanya melalui sudut pandang budaya sendiri. Etnosentrisme memiliki dua tipe yang satu sama lain saling berlawanan. Tipe pertama adalah etnosentrisme fleksibel. Seseorang yang memiliki etnosentrisme ini dapat belajar cara-cara meletakkan etnosentrisme dan persepsi mereka secara tepat dan bereaksi terhadap suatu realitas didasarkan pada cara pandang budaya mereka serta menafsirkan perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya. Tipe kedua adalah etnosentrisme infleksibel. Etnosentrisme ini dicirikan dengan ketidakmampuan untuk keluar dari perspektif yang dimiliki atau hanya bisa memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang dimiliki dan tidak mampu memahami perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya.
Enkulturasi adalah proses pengenalan norma yang berlaku di masyarakat. Dalam proses ini seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat-istiadat, sistem norma, serta peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Kata enkulturasi dalam bahas Indonesia juga berarti “pembudayaan”. Sorang individu dalam hidupnya juga sering meniru dan membudayakan berbagai macam tindakan setelah perasaan dan nilai budaya yang memberi motivasi akan tindakan meniru itu telah diinternalisasi dalam kepribadiannya. M.J.Herskovits berpendapat bahwa perbedaan antar enculturation (enkulturasi) dengan socialization (sosialisasi) adalah sebagai berikut :
1. Enculturation (enkulturasi) adalah suatu proses bagi seorang baik secara sadar maupun tidak sadar, mempelajari seluruh kebudayaan masyarakat.
2. Socialization (sosialisasi) adalah suatu proses bagi seorang anak untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma yang berlaku dalam keluarganya.
Selo Sumardjan mendefinisikan masyarakat sebagai “orang-orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan” (Soerjono Soekanto, 1986). Mengacu kepada dua definisi tentang masyarakat seperti dikemukakan di atas, dapat di identifikasi empat unsur yang mesti terdapat di dalam masyarakat, yaitu:
1. Manusia (individu-individu) yang hidup bersama,
2. Mereka melakukan interaksi sosial dalam waktu yang cukup lama.
3. Mereka mempunyai kesadaran sebagai satu kesatuan.
Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.
Psikologi lintas budaya membahas bagaimana individu dan masyarakat berprilaku sesuai dengan budaya yang dianut.Kategori yang sering digunakan untuk merujuk kelompok budaya adalah etnisitas dan bahasa. Sebuah kelompok etnik diposisikan sebagai satu kelompok budaya. Demikian juga masyarakat yang menggunakan bahasa khasnya sendiri diperlakukan sebagai satu kelompok budaya khusus. Asumsinya mendasarkan pada pendapat Jacques Lacan, yang menyatakan bahwa manusia terfokuss pada bahasa yang digunakannya. Bahasa adalah penentu budaya manusia. Dunia dipahami manusia dari kelompok budaya berbeda secara berbeda karena bahasa yang digunakan untuk memahaminya juga berbeda
Pada umumnya penelitian psikologi lintas budaya dilakukan lintas etnis. Artinya sebuah sebuah etnis diperlakukan sebagai satu kelompok budaya. Dari sisi praktis, hal itu sangat berguna. Meskipun hal tersebut juga menimbulkan persoalan, apakah sebuah negara bisa diperlakukan sebagai satu kelompok budaya bila didalamnya ada ratusan etnik seperti halnya indonesia? Dalam posisi seperti itu, penggunaan bahasa nasional yakni bahasa indonesia menjadi dasar untuk menggolongkan seluruh orang indonesia ke dalam satu kelompok budaya.
Tidak ada kategori kaku yang bisa digunakan untuk melakukan pengelompokan budaya. Apakah batas-batas budaya itu ditandai dengan ras, etnis, bahasa, atau wilayah geografis, semuanya bisa tumpang tindih satu sama lain atau malah kurang relevan.
Jika diamati, saat ini manusia sering kali menghadapi permasalahan yang disebabkan oleh budaya yang tidak mendukung. Ketika pengaruh budaya buruk mempengaruhi kepribadiaan seseorang maka dengan sendirinya berbagai masalah yang tidak di inginkan akan terjadi secara terus-menerus. Sebagai contoh, ketika budaya berpakaian minim bagi kaum perempuan masuk ke Indonesia, muncul berbagai perdebatan.
Konflik antar etnik di Indonesia juga sering terjadi yang dilatarbelakangi oleh prasangka antar etnik dan konformitas. Misalnya seperti Konflik Antara Etnik Dayak Dan Etnik Madura Di Kalimantan, kasus ambon hal ini merupakan konflik psikologi lintas budaya maka untuk meminimalisir adanya konflik yang terjadi diindonesia mengenai budaya sangat penting untuk mempelajari psikologi lintas budaya karena erat kaitannya bagaimana kita dapat mengetahui perbedaan budaya baik dari individunya maupun kolektif.
Berbagai persoalan mendasar yang muncul dalam tinjauan psikologi lintas budaya menggambarkan sebuah kenyataan bahwa antar budaya yang berbeda sangat mungkin secara mendasar memiliki pandangan yang berbeda mengenai kepercayaan terhadap suatu hal, kepribadian, adat istiadat, pakaian dan bahasa. Suatu kenyataan yang menyatakan perlunya kajian-kajian yang bersifat lokal atau indigenous yang mampu memberi penjelasan mengenai kepribadian individu dari suatu budaya secara mendalam. Konseptualisasi mengenai kepribadian yang dikembangkan dalam sebuah budaya tertentu dan relevan hanya pada budaya tersebut.
Dalam konteks Indonesia psikologi lintas budaya sudah berkembang dan pengkajiannya bukan hanya non ilmiah tetapi sudahpada tahap penelitian hal ini dikarenakan psikologi lintas budaya diindonesia memiliki konstribusi penting dalam memahami dan mempelajari bagaimana perilaku manusia berdasarkan budayanya Karena untuk konteks Indonesia memiliki ragam budaya yang setiap daerah memilikinya. Wujud akulturasi dalam bidang organisasi sosial kemasyarakatan dapat Anda lihat dalam organisasi politik yaitu sistem pemerintahan yang berkembang di Indonesia setelah masuknya pengaruh India Dengan adanya pengaruh kebudayaan India tersebut, maka sistem pemerintahan yang berkembang di Indonesia adalah bentuk kerajaan yang diperintah oleh seorang raja secara turun temurun. Raja di Indonesia ada yang dipuja sebagai dewa atau dianggap keturunan dewa yang keramat, sehingga rakyat sangat memuja Raja tersebut, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya raja-raja yang memerintah di Singosari seperti Kertanegara diwujudkan sebagai Bairawa dan R Wijaya Raja Majapahit diwujudkan sebagai Harhari (dewa Syiwa dan Wisnu jadi satu).
Pemerintahan Raja di Indonesia ada yang bersifat mutlak dan turun-temurun seperti di India dan ada juga yang menerapkan prinsip musyawarah. Prinsip musyawarah diterapkan terutama apabila raja tidak mempunyai putra mahkota yaitu seperti yang terjadi di kerajaan Majapahit, pada waktu pengangkatan Wikramawardana.Wujud akulturasi di samping terlihat dalam sistem pemerintahan juga terlihat dalam sistem kemasyarakatan, yaitu pembagian lapisan masyarakat berdasarkan sistem kasta.

MATERI 7
Akulturasi dan Kontak Budaya
Akulturasi merupakan suatu proses yang individu ikuti (biasa pada masa kehidupan kemudian) dengan merespon suatu konteks budaya yang berubah. Akulturasi merupakan satu anteseden tersimpulkan dari keberagaman yang teramati dalam perilaku. Akulturasi hanya satu bentuk perubahan budaya, yaitu disebabkan kontak dengan budaya-budaya lain (konteks sosiologis). Menurut Herskovitz (1939) akulturasi dipahami sebagai fenomena yang akan terjadi tatkala kelompok-kelompok individu yang memiliki budaya berbeda terlibat dalam kontak yang berlangsung secara tangan pertama (langsung), disertai perubahan terus-menerus, sejalan pola-pola budaya asal dari kelompok itu atau dari kedua kelompok itu.
Beberapa unsur yang biasa dikaji dalam psikologi lintas-budaya adalah:
1. Ada kebutuhan melakukan kontak atau interaksi yang terus-menerus dan berhadap-hadapan langsung antara budaya-budaya itu.
2. Akibat-akibatnya berupa beberapa perubahan dalam fenomena budaya atau psikologis diantara orang-orang dalam kontak, biasa berlanjut untuk generasi-generasi berikut.
3. Dengan mengangkat kedua aspek itu bersama-sama, kita dapat membedakan antara suatu proses dan kedudukan ada aktivitas dinamis selama dan sesudah kontak dan ada suatu hasil proses yang mungkin relatif stabil.
Beberapa faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya suatu proses Akulturasi :
A. Faktor Intern (dalam),:
1. Bertambah dan berkurangnya penduduk (kelahiran, kematian, migrasi)
2. Adanya Penemuan Baru:
@ Discovery: penemuan ide atau alat baru yang sebelumnya belum pernah ada
@ Invention : penyempurnaan penemuan baru dan
@ Innovation /Inovasi: pembaruan atau penemuan baru yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat sehingga menambah, melengkapi atau mengganti yang telah ada. Penemuan baru didorong oleh : kesadaran masyarakat akan kekurangan unsur dalam kehidupannya, kualitas ahli atau anggota masyarakat.
3. Konflik yang terjadii dalam masyarakat
4. Pemberontakan atau revolusi
Faktor Ekstern (luar), antara lain:
1. Perubahan alam
2. Peperangan
3. Pengaruh kebudayaan lain melalui difusi(penyebaran kebudayaan), akulturasi ( pembauran antar budaya yang masih terlihat masing-masing sifat khasnya), asimilasi (pembauran antar budaya yang menghasilkan budaya yang sama sekali baru batas budaya lama tidak tampak lagi)
Beberapa faktor pendorong perubahan sosial:
1. Sikap menghargai hasil karya orang lain
2. Keinginan untuk maju
3. System pendidikan yang maju
4. Toleransi terhadap perubahan
5. System pelapisan yang terbuka
6. Penduduk yang heterogen
7. Ketidak puasan masyarakat terhadap bidang kehidupan tertentu
8. Orientasi ke masa depan
9. Sikap mudah menerima hal baru
Contoh akulturasi Indonesia- Hindu/buddha adalah masuknya epos ramayana atau mahabarata dalam cerita wayang. Contoh lain adalah adanya beberapa arsitektur candi dalam bangunan keagamaan di Indonesia. Contoh akulturasi Indonesia-Islam adalah mesuknya sastra dan kesustraan Arab dalam kesustraan Indonesia. Contoh lain adalah masuknya unsur arsitektur masjid dari Timur Tengah yang melengkapi bangunan keagamaan di Indonesia. Pengaruh kebudayaan Hindu hanya bersifat melengkapi kebudayaan yang telah ada di Indonesia.
Perpaduan budaya Hindu-Budha melahirkan akulturasi yang masih terpelihara sampai sekarang. Akulturasi tersebut merupakan hasil dari proses pengolahan kebudayaan asing sesuai dengan kebudayaan Indonesia
Wujud akulturasi budaya meliputi :
1. Bahasa
• Wujud akulturasi dalam bidang bahasa, dapat dilihat dari adanya penggunaan bahasa Sansekerta yang dapat ditemukan sampai sekarang dimana bahasa Sansekerta memperkaya perbendaharaan bahasa Indonesia.
• Penggunaan bahasa Sansekerta pada awalnya banyak ditemukan pada prasasti (batu bertulis) peninggalan kerajaan Hindu – Budha pada abad 5 – 7 M, contohnya prasasti Yupa dari Kutai, prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara. Tetapi untuk perkembangan selanjutnya bahasa Sansekerta di gantikan oleh bahasa Melayu Kuno seperti yang ditemukan pada prasasti peninggalan kerajaan Sriwijaya 7 – 13 M.
2.Religi/Kepercayaan
• Sistem kepercayaan yang berkembang di Indonesia sebelum agama Hindu-Budha masuk ke Indonesia adalah kepercayaan yang berdasarkan pada Animisme dan Dinamisme.
• Dengan masuknya agama Hindu – Budha ke Indonesia, masyarakat Indonesia mulai menganut/mempercayai agama-agama tersebut. Agama Hindu dan Budha yang berkembang di Indonesia sudah mengalami perpaduan dengan kepercayaan animisme dan dinamisme, atau dengan kata lain mengalami Sinkritisme.
• Sinkritisme adalah bagian dari proses akulturasi, yang berarti perpaduan dua kepercayaan yang berbeda menjadi satu. Untuk itu agama Hindu dan Budha yang berkembang di Indonesia, berbeda dengan agama Hindu – Budha yang dianut oleh masyarakat India.
• Perbedaaan-perbedaan tersebut dapat dilihat dalam upacara ritual yang diadakan oleh umat Hindu atau Budha yang ada di Indonesia. Contohnya, upacara Nyepi yang dilaksanakan oleh umat Hindu Bali, upacara tersebut tidak dilaksanakan oleh umat Hindu di India.
3.Organisasi Sosial Kemasyarakatan
• Dengan adanya pengaruh kebudayaan India tersebut, maka sistem pemerintahan yang berkembang di Indonesia adalah bentuk kerajaan yang diperintah oleh seorang raja secara turun temurun.
• Raja di Indonesia ada yang dipuja sebagai dewa atau dianggap keturunan dewa yang keramat, sehingga rakyat sangat memuja Raja tersebut, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya raja-raja yang memerintah di Singosari seperti Kertanegara diwujudkan sebagai Bairawa dan R Wijaya Raja Majapahit diwujudkan sebagai Harhari (dewa Syiwa dan Wisnu jadi satu).
4.Sistem Pengetahuan
• Wujud akulturasi dalam bidang pengetahuan, salah satunya yaitu perhitungan waktu berdasarkan kalender tahun saka, tahun dalam kepercayaan Hindu.
• Menurut perhitungan satu tahun Saka sama dengan 365 hari dan perbedaan tahun saka dengan tahun masehi adalah 78 tahun sebagai contoh misalnya tahun saka 654, maka tahun masehinya 654 + 78 = 732 M.
• 5.Peralatan Hidup dan Teknologi
• Salah satu wujud akulturasi dari peralatan hidup dan teknologi terlihat dalam seni bangunan Candi. Seni bangunan Candi tersebut memang mengandung unsur budaya India tetapi keberadaan candi-candi di Indonesia tidak sama dengan candi-candi yang ada di India, karena candi di Indonesia hanya mengambil unsur teknologi perbuatannya melalui dasar-dasar teoritis yang tercantum dalam kitab Silpasastra yaitu sebuah kitab pegangan yang memuat berbagai petunjuk untuk melaksanakan pembuatan arca dan bangunan.
6.Kesenian
• Wujud akulturasi dalam bidang kesenian terlihat dari seni rupa, seni sastra dan seni pertunjukan .
• Dalam seni rupa contoh wujud akulturasinya dapat dilihat dari relief dinding candi (gambar timbul), gambar timbul pada candi tersebut banyak menggambarkan suatu kisah/cerita yang berhubungan dengan ajaran agama Hindu ataupun Budha.
Persoalan inti disini ialah sejauh mana individu tertentu telah mengikatkan diri dalam proses akulturasi. Beberapa individu sangat terlibat, sementara yang lain cukup tak terlibat dalam proses ini. Sejumlah indikator boleh jadi dicari dari berbagai sumber (individu, informan, atau pengamatan langsung). Beberapa indikator ini ialah tingkat pendidikan formal, partisipasi dalam kerja yang diupah, keluasan urbanisasi, penggunaan media massa, partisipasi politik, dan perubahan keagamaan, bahasa, praktek sehari-hari, dan hubungan sosial. Sejumlah ubahan mungkin saling berkaitan (szapocznik, Scopetta, & Kurtines, 1978). Jadi, kita menemukan dalam literatur usaha-usaha untuk mengembangkan skala atau indeks kontak dan partisipasi yang menyatu lintas berbagai pengalaman.
Bentuk-bentuk dari kontak kebudayaan yang menimbulkan proses akulturasi antara lain:
1) Kontak dapat terjadi antara seluruh masyarakat seluruh masyarakat atau antara bagian-bagian saja dalam masyarakat, dapat juga terjadi antara antara individu-individu dari dua kelumpok.
2) Kontak dapat pula diklasifikasikan antara golongan yang bersahabat dan golongan yang bermusuhan.
3) Kontak dapat pula timbul antara masyarakat yang menguasai dan masyarakat yang menguasai dan masyarakat yang dikuasai secara politik atau ekonomi.
4) Kontak kebudayaan dapat terjadi antara masyarakat yang:
a) sama besarnya
b) berbeda besarnya
5) kontak kebudayaan dapat terjadi antara aspek-aspek materiil dan yang non materiil dari kebudayaan yang sederhana dengan kebudayaan yang sederhana dengan kebudayaan yang kompleks dan antara kebudayaan yang kompleks pula.
Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi.
Nilai budaya adalah suatu bentuk konsepsi umum yang dijadikan pedoman dan petunjuk di dalam bertingkah laku baik secara individual, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan tentang baik buruk, benar salah, patut atau tidak patut.
Nilai-nilai budaya akan tampak pada simbol-simbol, slogan, moto, visi misi, atau sesuatu yang nampak sebagai acuan pokok moto suatu lingkungan atau organisasi.

MATERI 8
Budaya dan Emosi Manusia
Emosi adalah respon neuropsikologis terhadap stimulus yang menimbulkan komponen- koponen yang terorganisasi. Komponen-komponen tersebut meliputi perasaan subjektif, misalnya perilaku ekspresif melalui wajah, suara dan gerakan non verbal. Reaksi fisiologis misalnya meningkatnya denyut jantung, bernafas lebih cepat. Kecenderungan perilaku mis. Bergerak mendatang atau menjauhi objek.
@ Tiga komponen utama emosi :
@ Perubahan fisiologis pada wajah, otak dan tubuh
@ Proses kognitif seperti interpretasi suatu peristiwa
Pengaruh Budaya yang membentuk pengalaman ekspresi emosi.
Analogi Emosi
@ Emosi sebagai pohon
@ Relasi antara kapasitas biologis dengan emosi dapat diumpamakan dengan batang dan akar
@ Pemikiran dan penjelasan dapat diumpamakan sebagai cabang-cabangnya
@ Budaya adalah tukang kebun yang membentuk pohon tersebut, memotong bagian tertentu dan menumbuhkan bagaian lainnnya
Cultural Differences in Emotion
A. Cultural Differences in Emotion Antecedents
B. Cultural Differences in Emotion Appraisal
C. Cultural Differences in Expressive Behavior: Display Rules
BUDAYA DAN PERKEMBANGAN MANUSIA
Menurut Super dan Harkness (1986) perkembangan manusia memiliki tiga komponen utama yaitu:
@ Konteks fisik dan lingkungan sosial dimana anak itu hidup dan tinggal,
@ Praktek pendidikan dan pengasuhan anak,
@ Karakteristik psikologis orang tua.
@ Budaya dapat mempengaruhi perilaku ekspresif melalui cultural display rules, dan dapat mempengaruhi bagaimana kita menilai emosi melalui aturan decoding budaya.
@ Cultural display rules: Aturan yang telah ditentukan secara budaya yang membentuk bagaimana emosi universal diekspresikan.
@ Decoding rules: Aturan yang membentuk interpretasi dan persepsi emosi terhadap emosi.

MATERI 9
Budaya dan Kepribadian Manusia
A. BUDAYA DALAM RANAH INDIVIDUAL
Budaya terbagi atas ranah sosial dan ranah individual. Pada ranah sosial dikarenakan budaya lahir ketika manusia bertemu dengan manusia lainnya dan membangun kehidupan bersama yang lebih baik sekedar pertemuan-pertemuan incidental. Sedangkan dalam ranah individual karena budaya diawali ketika individu-individu bertemu untuk membangun kehidupan bersama dimana individu-individu tersebut memiliki keunikan masing-masing dan saling memberi pengaruh.
B. KEPRIBADIAN DALAM LINTAS BUDAYA
Budaya, kepribadian, dan konsep diri saling mempengaruhi satu sama lain sekaligus dan dengan tujuan akhir bekerja integrative membentuk individu yang utuh. Kepribadian mempengaruhi dan menjadi rangka acuan dari pola pikir, perasaan, dan perilaku individu serta bertindak sebagai aspek fundamental dari setiap individu tersebut
C. KADUNGAN TEORI KEPRIBADIAN
Fenomena kedua yang menunjukkan hubungan antara budaya dengan kepribadian adalah masalah antesedent, atau latar belakang kondisi sosial budaya dimana suatu teori dibangun, yang mempengaruhi bagaimana isi dan suatu teori dibangun. Kondisi sosial selalu terus berubah sebagaimana budaya yang dinamis saling berasimilasi dan berakulturasi.
D. METODOLOGI DAN CARA PENGUKURAN
Metodelogi: banyak sekali kesulitan dan bias yang timbul ketika dilakukan studi-studi dalam ranah psikologi lintas budaya. Misalnya persoalan bahasa, penggunaan Multilingual (peneliti dan subjek penelitian memiliki bahasa yang berbeda) sehinggan member respon yang berbeda terhadap pertanyaan dalam tes kepribadian. Cara pengukuran: banyak alat-alat tes kepribadian dikembangkan oleh peneliti dari Amerika-Eropa. Sehingga sangat mungkin stimulus maupun standar norma dan interpretasi alat psikotes kurang mampu diterapkan dalam pengukuram kepribadian individu dari budaya non-western.
E. BUDAYA DAN PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN
Kepribadian manusia selalu berubah sepanjang hidupnya dalam arah-arah karakter yang lebih jelas dan matang. Perubahan tersebut sangat dipengaruhi oleh lingkungan dengan fungsi-fungsi bawaan sebagai dasarnya. Stern (dalam Saffet, 1985) menyebutkan sebagai Rubber Band Hypothesis (Hipotesa ban karet). Predisposisi seseorang diumpamakan sebagai ban karet dimana faktor-faktor genetic menentukan sampai dimana ban karet tadi dapat ditarik dan faktor lingkungan menentukan sampai seberapa panjang ban karet tadi akan ditarik atau direntang. Dari hipotesa diatas dapat ditarik bahwa budaya memberi pengaruh pada perkembangan kepribadian seseorang.
F. BUDAYA DAN INDEGENOUS PERSONALITIES
Yaitu suatu kajian kepribadian yang bersifat lokal. Di Indonesia kajian mengenai indigenous personality diawali oleh Darmanto Jatman (1997). Dalam bukunya Psikologi Jawa, Jatman menemukan adanya profil kepribadian manusia jawa yang memandang jiwanya adalah sebagai rasa
G. BUDAYA DAN KONSEP DIRI
Konsep diri adalah organisasi dari persepsi-persepsi diri (Burns, 1979). Organisasi dari bagaimana kita mengenal, dan menilai diri kita sendiri. Suatu deskripsi mengenai siapa kita, mulai dari identitas fisik, sifat, hinggan prinsip.
Pengaruh terhadap persepsi diri
• Pada umumnya subjek memberikan beberapa respon, yaitu dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu: respon abstrak atau deskripsi sifat-kepribadian semacam (saya seorang yang mudah bersosialisasi, pemarah, dll) dan respon situasional semacam (saya biasanya mudah bersosialisasi dengan teman-teman dekat saya, ramah, dsb).
• Hasil studi menunjukkan bahwa subjek Amerika cenderung memberikan respon abstrak, sedangkan subjek Asia cenderung respon situasional. Selanjutnya dianalisis bahwa individu dengan konstruk diri yang dependent cenderung menekankan pada atribut personal, kemampuan ataupun sifat kepribadian, sebaliknya individu dengan konstruk diri interdependent lebih cenderung melihat dirinya dalam konteks situasional dalam hubungannya dengan orang lain (Matsumoto, 1996).
Pengaruh pada social explanation
• Konsep diri juga mejadi semacam pola paduan bagi kognitif (cognitive template) dalam melakukan interpretasi terhadap perilaku orang lain.
Pengaruh pada motivasi berprestasi
• Dalam teori Motivasi Maslow, manusia memiliki hierarki kebutuhan dari kebutuhan paling dasar yaitu fisiologis hingga kebutuhan paling tinggi yaitu aktualisasi diri.
Pengaruh pada Peningkatan Diri (Self Enhancement)
• Pandangan positif mengenai diri akan membangkitkan keyakinan diri, kepercayaan diri, dan motivasi diri untuk lebih bersosialisasi dan mencapai prestasi yang lebih tinggi.
Pengaruh pada Emosi
• Emosi dapat diklasifikasikan atas arah hubungan sosial dari emosi, yaitu apakah emosi tersebut akan mengarahkan pada pemisahan diri dengan lingkungan yang selanjutnya disebut socially disengaged emotions dan emosi yang akan mengarahkan pada keterhubungan dengan orang lain dan lingkungan luarnya atau dikenal sebagai sociallly engaged emotions.

MATERI 10
Budaya dan Pengembangan Manusia
BUDAYA
@ Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh budaya bersifat abstrak ,kompleks,dan luas. (Koendjaraningrat,1986)
@ MANUSIA
Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna dibandingkan makhluk ciptaan Allah yang lain. Dikatakan paling sempurna karena manusia dibekali akal sekaligus nafsu
BUDAYA DAN PERKEMBANGAN MANUSIA
Berikut ini terdapat tiga pergeseran dari teori perkembangan yang terdiri dari 3 paradigma, yaitu :
1. Paradigma mekanistik
2. Paradigma organistik
3. Paradigma Dualistik Kontekstual
Persamaan Dan Perbedaan Budaya Dalam Perkembangan Motorik
Kebudayaan juga mempengaruhi perkembangan motorik anak terutama yang berkaitan dengan keaktifan gerak anak. Berdasarkan hasil penelitian Kluckhorn pada bayi Amerika dan Zuni, diketahui bahwa bayi suku Indian Zuni kalah aktif dibandingkan dengan bayi Amerika, karena kebudayaan Zuni yang menekankan kekaleman dan pembatasan diri.

MATERI 11
Budaya dan Proses-Proses Dasar Psikologi
1. Kebudayaan dan presepsi
2. Kebudayaan dan kognisi
3. Kebudayaan dan kesadaran
4. Kebudayaan dan kecerdasan
Budaya mempengaruhui dasar dukungan psikologis seperti, presepsi, kognisi, kesadaran dan kecerdasan serta dampak budaya pada dasar prilaku bilogis.

MATERI 12
Budaya dan Perilaku Sosial
Definisi Konformitas adalah :Sikap patuh tetapi lebih kepada mengalah atau mengikuti tekanan dari kelompokPerilaku seseorang yang sama ( seragam ) dengan perilaku orang lain atau perilaku kelompoknya. Jadi apabila seseorang menampilkan perilaku tertentu karena setiap orang lain menampilkan perilaku
 Nilai
Nilai tampak sebagai ciri individu dan masyarakat yang relative lebih stabil dan karena itu berkaitan dengan sifat kepribadian dan pencirian budaya. Nilai biasa dipertimbangkan sebagai hal yang lebih umum dalam karakter ketimbang sikap.
@ Individualism dan kolektifisme
Individualisme adalah pola sosial yang menempatkan nilai tertinggi pada kepentingan individu. Individualis melihat diri mereka sebagai independen dan hanya longgar terhubung ke kelompok mana mereka merupakan bagiannya.
Kolektivisme adalah pola sosial yang menempatkan nilai tertinggi pada kepentingan kelompok. Ketika pribadi tujuan bertentangan dengan norma-norma kelompok, kolektivis cenderung sesuai dengan norma-norma kelompok.
@ Altruisme
Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri. Perilaku ini merupakan kebajikan yang ada dalam banyak budaya dan dianggap penting oleh beberapa agama.

MATERI 13
Menelusuri Masalah Lintas Budaya, Strategi-Strategi Penelitian
Masalah Lintas Budaya
@ Masalah dalam lintas budaya terletak pada penelitiannya, dalam penelitian psikologi lintas budaya dalam suatu kondisi dengan parameter tertentu yang menjadi keterbatasannya karena tidaklah mungkin melakukan penelitian pada semua manusia dengan semua kondisinya.
@ Segala keputusan yang akan menjadi dasar kondisi dan parameter dari studi dilakukan, menjadi keterbatasan dan kedalaman dari penelitiannya. Petimbangan-pertimbangan yang harus diperhatikan adalah:
@ Perumusan Masalah
@ Tipe Penelitian
@ Partisipan
@ Variabel Penelitian
@ Lingkungan dan Setting
@ Alat ukur
@ Pelaksanaan penelitian
@ Analisa dan pembahasan
MATERI 14
Menerapkan Temuan-Temuan Penelitian Secara Lintas Budaya
Dalam sejarah psikologi, tampaknya boleh dibilang bahwa psikologi sosial sebagai sebuah disiplin tidak dipandang punya daya tarik atau nilai yang setinggi cabang-cabang psikologi lainnya. Bias yang meremehkan psikologi sosial dimasa lalu ini banyak dipengaruhi oleh pandangan bahwa apapun yang sosila tak mungkin bisa ilmiah. Sayangnya, pandangan ini masih bertahan sampai sekarang, meski tidak sekuat dulu.
@ Temuan-temuan lintas budaya tentang atribusi
@ Temuan-temuan lintas budaya tentang ketertarikan interpersonal dan cinta
@ Temuan lintas budaya tentang konformitas, ketundukan, dan kepatuhan
@ Temuan-temuan lintas budaya tentang produktivitas kelompok
@ Temuan lintas budaya tentang persepsi orang dan pembentukan kesan
Dengan demikian, ada banyak bukti yang menyatakan bahwa tiap budaya berbeda dalam proses maupun makna persepsi orang dan pembentukan kesan. Bidang psikologi social ini amatlah relevan dengan pemahaman kita tentang budaya, streotipe, dan etnosentrisme.

DAFTAR PUSTAKA
Berry, John W, dkk. 1999. Psikologi Lintas Budaya. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Matsumoto, D. 2004. Pengantar Psikologi Lintas Budaya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Dayaksiin, T, P. 2004. Psikologi Lintas Budaya. UMM Press
http://dynaandjayani.blogspot.com/2012/01/tugas-psikologi-lintas-budaya.html. Di Unduh Hari Minggu, 2 Juni 2013. Pukul 09. 00 Wib
http://tiwipratiwi07.wordpress.com/2012/01/12/psikologi-lintas-budaya/. Di Unduh Hari Minggu, 2 Juni 2013. Pukul 09. 00 Wib
http://freakyvampire.blogspot.com/2012/01/pengertian-lintas-budaya.html. Di Unduh Hari Minggu, 2 Juni 2013. Pukul 09. 00 Wib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s