Analisis Kasus Psikologi Konseling

BAB I
PENDAHULUAN

 Latar Belakang Masalah
Perilaku menyimpang pada manusia seringkali tidak disadari oleh seseorang, atau bahkan dia menolak bahwa mereka memiliki masalah. Dengan demikian, tujuan konseling dalam konseling Gestalt adalah reowning. Pengakuan (menyadari) bahwa satu-satunya kenyataan yang kita miliki ialah kenyataan saat ini, orang serupa itu tidak melihat kebelakang atau ke depan untuk menemukan arti atau maksud dalam kehidupan.
Seperti kasus yang akan dibahas dibawah ini, yang dirinya seorang remaja berumur 20 tahun, berinisial P, memiliki masalah dalam memilih suatu keputusan untuk masa depannya. Di mana dalam kasus ini, P ingin melanjutkan S2 dan meminta abangnya untuk menjual sedikit aset yang di tinggalkan orangtua mereka untuk biaya kulia S2 nya kelak. Tetapi, P tidak sanggup untuk mengatakan keinginannya, padahal sebenarnya P merasa bahwa permintaannya itu tidaklah berat, karena ia berfikir bahwa ia masih sanggup dan memiliki biaya untuk hal itu. Dan P merasa ragu untuk mengatakan kepada abangnya, sebab P takut permintaannya itu tidak dikabulkan.
Pada analisis kasus yang akan dijelaskan di bawah ini, penulis melihat bahwa Pendekatan Gestalt sangat cocok untuk mengarahkan konseli atau P untuk secara langsung mengalami masalahnya daripada hanya sekedar berbicara situasi yang seringkali bersifat abstrak. Oleh karena itu, dengan adanya pendekatan Gestalt, maka seorang konselor Gestalt akan berusaha untuk memahami secara langsung bagaimana konseli berpikir, bagaimana konseli merasakan sesuatu dan bagaimana konseli melakukan sesuatu, sehingga konselor akan “hadir secara penuh” (fully present) dalam proses konseling sehingga yang pada akhirnya memunculkan kontak yang murni (genuine contacs) antara konselor dengan konseli.
Dalam hal ini, pengikut Gestalt selalu mempergunakan kata tanya “Apa/What” dan “Bagaimana/How”. Seperti dalam kasus ini, bagaimana seharusnya P bertindak? Mereka menjauhi pertanyaan “Mengapa/Why”. Hal ini dikarenakan pertanyaan mengapa mempunyai kecenderungan untuk mengetahui alasan klien. Jika hal ini dilakukan, maka secara tidak langsung konselor telah mengajak klien untuk kembali ke masa lalunya. Selain itu, pertanyaan mengapa akan mengarahkan klien untuk berbuat rasionalisasi dan mengadakan penipuan diri (self-deception) serta lari dari kenyataan yang terjadi saat ini. Lari dari kenyataan yang terjadi saat ini akan membuat klien mandeg atau stagnasi.
Oleh sebab itu, Penulis ingin menjelaskan atau menganalisis kasus yang ada dengan pendekatan Gestal. Dimana kasus tersebut mempertanyakan bagaimana P harus bertindak.

BAB II
PEMBAHASAN ANALISIS KASUS

 Kasus
Seorang remaja perempuan yang duduk di bangku kuliah, berumur 20 tahun, berinisial P memiliki konflik dalam memilih keputusan untuk masa depannya. P adalah anak yang biasa melakukan semua hal sendiri. Masa kecilnya, P dikenal anak yang sangat manja. Diumurnya sekarang, P mengakui bahwa ia belum seluruhnya mandiri akan hidupnya. Walaupun ia sudah ditinggalkan ibu dan ayah yang tidak tahu keberadaannya. Ia belum bisa untuk memikirkan pekerjaan untuk masa depan, ia menginginkan setelah lulus sarjana melanjutkan ke S2. Meski orangtua tidak ada di sisinya, namun P masih memiliki abang yang mengurusi segala investasi dari orangtua.
P memiliki masalah bahwa ia tidak sanggup mengatakan keinginannya untuk melanjutkan S2 dan meminta abangnya untuk menjual sedikit aset yang ditinggalkan orangtua untuk biaya kuliahnya kelak. Karena, sebelumnya abang juga pernah menjual aset tersebut dengan mengatas namakan P, padahal abangnya menggunakan untuk keperluan pribadi. Jadi, kali ini P ingin merealisasikan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan S2nya. P merasa bahwa permintaannya itu tidaklah berat, karena ia berfikir bahwa ia masih sanggup dan memiliki biaya untuk hal itu. Namun, P ragu untuk mengatakannya karena takut tidak dikabulkan. Bagaimana seharusnya P berindak???

 Analisis Kasus
Menggunakan Pendekatan Gestalt
Seperti kasus di atas, konselor dapat menerapkan teknik pembalikan. Teknik pembalikan maksudnya adalah konseli terjun ke dalam suatu yang ditakutinya karena dianggap bisa menimbulkan kecemasan, dan menjalin hubungan dengan bagian-bagian diri yang telah ditekan atau diingkarinya. Gejala-gejala dan tingkah laku sering kali mempresentasikan pembalikan dari dorongan-dorongan yang mendasari. Jadi konselor bisa meminta klien memainkan peran yang bertentangan dengan perasaan-perasaan yang dikeluhkannya atau pembalikan dari kepribadiannya.
Seperti halnya P yang takut dan ragu untuk mengungkapkan keinginannya kepada abangya untuk melanjutkan S2 dan meminta abangnya untuk menjual sedikit aset yang ditinggalkan oleh orangtua mereka untuk biaya kuliahnya nanti. Karena P sangat menginginkan setelah lulus sarjana nanti P ingin melanjutkan S2. Di sini konselor perlu membawa konseli untuk masuk kedalam suatu yang di takutinya itu. Konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan konseli untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi konseli. P tidak perlu takut untuk mengatakan keinginannya kepada abangnya tersebut, dan konselor perlu meyakinkan konseli bahwa permintaannya itu akan dikabulkan oleh abangnya, dengan satu hal yang perlu di ingat P harus bertanggung jawab dengan apa yang telah menjadi keputusannya itu kepada abangnya. Walaupun P belum bisa memikirkan pekerjaan untuk masa depannya. Ada dua hal yang dilakukan konselor yaitu, membangkitkan motivasi P sekaligus meyakinkan P bahwa permintaannya akan dikabulkan oleh sang abang, dan membangkitkan otonomi P (menekankan bahwa P harus mengemukakan alasan-alasannya secara bertanggung jawab kepada konselor bahwa P ingin melanjutkan S2 dengan sungguh-sungguh).
Setelah P memperoleh pemahaman dan penyegaran tentang pikiran, perasaan, dan tingkah lakunya, konselor mengantarkan P memasuki fase akhir konseling. Pada fase ini P menunjukkan gejala-gejala yang mengindikasikan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi.
Sehingga dalam kasus ini, sebenarnya tujuan utama dari konseling Gestalt adalah membantu P agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Tujuan ini mengandung makna bahwa P haruslah menjadi percaya pada diri, dapat berbuat lebih banyak untuk meingkatkan kebermaknaan hidupnya.
Individu yang bermasalah pada umumnya belum memanfaatkan potensinya secara penuh, melainkan baru memanfaatkan sebagaian dari potensinya yang dimilikinya. Melalui konseling, konselor membantu P agar potensi yang baru dimanfaatkan sebagian ini dimanfaatkan dan dikembangkan secara optimal.
Dimana pendekatan yang sangat memperhatikan kemampuan organisme untuk berkembang dan menentukan tujuannya adalah pendekatan Gestalt. Pendekatan Gestalt lebih menekankan pada apa yang terjadi saat ini-dan-di sini, dan proses yang berlangsung, bukan pada masa lalu ataupun masa depan. Sehingga P dapat mengatakan keinginannya itu kepada abangnya dengan sungguh-sungguh. Bahwa keinginannya saat ini dapat mempersiapkan dirinya untuk melanjutkan S2. Yang penting dalam pendekatan ini adalah kesadaran saat ini dalam pengalaman seseorang.

BAB III
KESIMPULAN

Pengikut Gestalt selalu mempergunakan kata tanya “Apa/What” dan “Bagaimana/How” Mereka menjauhi pertanyaan “Mengapa/Why”. Hal ini dikarenakan pertanyaan mengapa mempunyai kecenderungan untuk mengetahui alasan klien. Jika hal ini dilakukan, maka secara tidak langsung konselor telah mengajak klien untuk kembali ke masa lalunya. Selain itu, pertanyaan mengapa akan mengarahkan klien untuk berbuat rasionalisasi dan mengadakan penipuan diri (self-deception) serta lari dari kenyataan yang terjadi saat ini. Lari dari kenyataan yang terjadi saat ini akan membuat klien mandeg atau stagnasi.
Selain itu, pendekatan gestalt juga memiliki kelebihan dan kelemahan. Sehingga, konseli yang mengalami masalah dalam dirinya, akan diberikan bentuk terapi atau konseling yang sesuai dengan masalah yang ia miliki.

DAFTAR PUSTAKA

Abu Bakar Baraja. 2004. Psikologi Konseling dan Teknik Konseling, Jakarta, Studio Pers
Gerald Corey. 2009. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi (terjemahan), Bandung: PT Refika Aditama
Komalasari Gantina, Wahyuni, Karsih, 2011. Teori dan Teknik Konseling. Jakarta : PT. Indeks
Diane Zimberoff, M.A. and David Hartman, MSW*. Gestalt Therapy and Heart- Centered Therapies. Journal of Heart-Centered Therapies, 2003, Vol. 6, No. 1, pp. 93-104 © 2003 Heart-Centered Therapies Association. Di Unduh Hari Jumat, 31 Mei 2013. Pukul 16. 00 Wib
Edwin S. Harris, Ph.D. *. God, Buber, and the Practice of Gestalt Therapy (This article appears in the Gestalt Journal, Vol. 23, Number 1, Spring, 2000). Di Unduh Hari Jumat, 31 Mei 2013. Pukul 16. 00 Wib
Lynne Jacobs. Dialogue in Gestalt Theory and Therapy. (first published in: The Gestalt Journal. v12,1, 1989). Hycner Jacobs: Dialogue in Gestalt Theory and Therapy, 1989. Di Unduh Hari Jumat, 31 Mei 2013. Pukul 16. 00 Wib

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s