Cuma Berani Dibelakang Layar

Standar

Sang Penceramah berkata, “ Kalau dilihat ibu-ibu disini sudah tua-tua. Kalau di kampung saya itu, namanya sudah bau tanah.”Terangnya dengan logat yang khas.

Dan dilanjutkan,” Baiklah, saya akan ….bla, bla, bla, …..”

Itu tadi sepotong perkataan Sang Penceramah yang di dengar Mo waktu mengikuti majlis ta’lim Ibu-ibu di salah satu Mushalla. Sebenarnya tidak ada yang salah dari perkataan Sang Penceramah, tapi Mo bilang ke saya.

“ Kalau mau memberikan ceramah itu, sebaiknya jangan bilang ibu-ibu itu sudah bau tanah. Karena nanti bisa menurunkan semangat ibu-ibu itu buat pergi ke majlis ta’lim. Namanya juga belajar, walaupun sudah ibu-ibu, sudah tua, ya wajib belajar juga. Yang tua itu kan fisiknya, Mbok ya dikasih tahu, walaupun sudah tua tapi masih semangat belajar. Ibu-ibu itu juga harus dimotivasi biar bertambah semangat belajarnya. Tua fisiknya, tapi psikisnya masih jiwa muda.”

“Terus?” Lanjut saya penasaran.

“Ya gitulah, harusnya juga bilang, meskipun tua ibu-ibu ini cara berpikirnya selalu hati-hati. Punya rasa ingin tahu yang tinggi. Coba lihat yang muda, kan jarang yang mau ikutan majlis ta’lim dengerin ceramah gitu. Ya gak?”

“Hehe.” (Ini Mo kayak agak nyindir anaknya), saya balas tersenyum bilang dalam hati, bener juga sih.

“Jadi?”Tanya Mo.

“Mo aja besok yang jadi penceramahnya. Sekalian jadi motivator gituh?” Kata saya.

“Apa kata orang kalau Mo yang jadi penceramahnya. Hahaha…jadi kalau kayak tadi udah bisa ndak jadi penceramah? Tanya Mo lagi.

“Bisa.” Jawab saya yakin.

“Hahaha…gimana ya. Gimana..beraninya Cuma di belakang layar, sih.” Jawab Mo bingung.

————-Aha!!! Sayangnya Cuma berani dibelakang layar. Dan berani memperagakan ceramahnya hanya ke saya, anaknya. Hihihi… My Mother My awesome, deh!

#Cumaberanidibelakanglayar—H-16

BERLATIH!

Standar

Gak terasa bulan suci Ramadhan semakin dekat saja. Alhamdulillah, semoga kita semua bisa sampai di bulan yang Agung tersebut. Banyak harapan yang ingin kita capai agar nantinya di bulan suci kita bisa menjadi pribadi yang utuh dan penuh semangat menggapai cita-cita dan impian.

Kurang lebih setengah bulan lebih tiga hari ini, kita akan merasakan atmosfir dari berkahnya bulan Ramadhan. Suatu bulan yang di nanti-nantikan umat islam di seluruh dunia. Banyak pahala yang bisa kita rengkuh bersama dan menjalankan aktivitas penuh istimewa.

Saya sendiri sudah lama menunggu bulan Ramadhan ini. saya, Memo, Kaka dan kita semua semoga dimampukan oleh Allah menggapai pahala sebanyak-banyaknya. Banyak mimpi yang belum terselesaikan. Banyak rencana yang belum terjadi. Dan apapun itu, kita masih punya harapan yang sangat tinggi. Dimana puncaknya kita bisa menjadi orang yang senang memberi.

Ada satu yang sangat saya impikan. Yang sangat saya harapkan. Dan semoga bisa saya dapatkan sebelum bulan puasa 2016 ini. Amin. Semoga Allah meridhai. Demi semuanya, dan diberi kemudahan dalam proses ini.

Dalam perjalanan hidup kita, penuh teka-teki. Seandainya dan seandainya. Ah, sudahlah, yang perlu kita lakukan adalah berusaha dan berdoa, lalu serahkan pada yang Maha Kuasa. Semoga kita mendapatkan yang terbaik dan hasil yang indah seperti doa yang kita minta.

Tahukah?
Hal yang paling kita takuti adalah menyakiti hati orang yang sangat kita cintai.
Hal yang paling kita jauhi adalah mengecewakan orang yang sangat kita cintai.
Namun, ada hal yang sangat membuat kita sakit dan kecewa, adalah tidak bisa memberi. dan membahagiakan.

Kita masih punya waktu. Mulai H- 18 menuju Ramadhan 2016 nanti latih, latih, latih diri kita untuk bisa menjadi orang yang bisa senantiasa memberi dan membahagiakan. Selamat berlatih!

Saya dan kita semua semoga bisa menjadi berguna.
Salam saya untuk orang yang memberi saya motivasi untuk selalu percaya diri dan terus menulis dan berkarya. Semoga mimpi-mimpinya juga bisa tercapai. Amin.

Welcome H-18 Ramadhan

Harus Berani Memulai

Standar

Hal apa yang paling pertama ditakuti? Memulai!

Ya, memulai itu memakan keberanian. Takut salah. Takut tidak bisa. Takut mengecewakan. Takut, takut, takut pokoknya takut. So? Mulailah! Dengan berani memulai, maka kita akan tahu rasanya. Kita akan tahu jawabannya. Kalau kita sudah takut duluan, bagaimana kita bisa untuk memulai?

Jangan lupa, harus berani memulai!

Disaat kita mulai down, harus berani memulai, bangkit lagi, semangat lagi. Ini tentang diri kita sendiri. Tidak ada seorangpun yang bisa membuat kita yakin bahwa kita bisa selain diri kita sendiri. Sadar atau tidak, disekeliling kita terdapat orang-orang yang menganggap hal-hal gila yang mereka anggap tidak mungkin. Tidak mungkin bisa. Oh, come on! Mulailah mendamaikan hati, sikap dan pikiran kita untuk yakin seyakin-yakinnya.

Selain itu juga berani mengorbankan waktu. Waktu setiap kita sama. 24 jam sehari semalam. Orang lain bisa memanfaatkan waktunya dengan maksimal. Penuh dengan kegiatan yang produktif. Hey, tapi juga menghasilkan. Gak mau yang begini? Semua orang pasti mau, tapi kebanyakan masih tidak tahu caranya.

Mulai!

Mulai!

Oke, sederhananya kalau waktu itu hanya untuk tidur, makan, terus mandi, dan begitu seterusnya. Lalu sisa waktu kita kemana? Kita harus punya sesuatu yang bisa kita dapatkan kepuasan dari setiap yang kita lakukan.
Terus apa yang salah? Yang salah kita belum memulai. Mengisi waktu dengan sebaik-baiknya. Dengan apa? Dengan kegiatan yang produktif. Bagaimana caranya? Tentu kita tahu, apa yang bisa kita lakukan. Tidak usah bingung bagaimana caranya. Mulai saja dengan yang paling simple sekalipun. Paling penting harus berani memulai! Atur waktu!

Kita bukan lagi sebagai pengingat yang baik. Terlalu banyak yang kita ingat. Pasti terlalu banyak mengingat kenangan. Huh! Lupakan!
Buang jauh-jauh. Kita harus menjadi pribadi yang baru. Tidak ada kata terlambat. Kita masih punya waktu. Lalu mulai!

Masih bingung? Iya. Ah, mungkin kita kurang membaca situasi. Kurang belajar dari pengalaman. Tidak pernah menguasai satu bidang yang benar-benar minat kita.

Benar bukan?

Kalau iya, mulai sekarang. Harus berani memulai!

Gambar diambil daridisini

Selalu Salah

Standar

Dear salah,

Kenapa, ya, orang lebih kepoin kita dibanding kepoin dirinya sendiri? Kenapa, ya, orang lebih suka bilangin kita yang enggak-enggak dibanding mengaca diri sendiri? Kenapa, ya, orang menilai kita dari kekurangan dibanding kelebihan? Kenapa, ya, kita selalu salah?

Salah.

Ada apa dengan kata salah. Salah apakah memang sedang salah?

Apakah salah suatu masalah?

Salah sayang,

Biar pun salah memiliki celah, tapi salah juga memiliki masa depan yang cerah. “Kamu salah. Kamu salah. Kamu salah” Ah, itu kata orang. Yang hanya menilai dari luar. Yang hanya memandang dari cover. Yang tidak pernah tahu seberapa besar cara kita keluar dari salah yang orang bilang berujung masalah.

Salah, adakah orang diluar sana yang juga memiliki salah? Ada, banyak!

Salah, adakah orang diluar sana yang berusaha berubah? Ada, tapi tidak banyak.

Kita termasuk golangan yang mana?
Aku termasuk golongan yang mana?
Kamu termasuk golongan yang mana?

Ah, salah. Datang tanpa lelah.

Salah manis,

Aku bukan sedang memujimu. Tapi aku juga tidak mau menghakimimu. Gara-gara salah orang kehilangan arah. Tentang salah orang jadi berkilah. “Bukan aku yang salah” sayup-sayup terdengar suara itu. Suara hati kita yang memang sedang salah.

Salah baik,

Orang dari salah menjadi benar. Dari benar menjadi sangat benar. Dari sangat benar menjadi sangat-sangat benar. Karena salah diam-diam kita mengintip kebaikan. Karena salah ada sesuatu yang ingin kita damaikan. Ada salah ada kebaikan. Membuka mata, hati, dan pikiran.

Salah yang cantik,

Tidak ada orang yang sempurna. Setiap kita punya salah. Disekitar kita banyak orang yang saling menyalahkan dan disalahkan. Padahal belum tentu kita yang benar, bukan? Mengapa salah dijadikan pilihan? Salah itu suatu kenormalan seseorang. Tapi, bagaimana salah yang dia memang salah? Salah itu kemaafan. Maafkanlah! Orang yang memaafkan akan memancarkan kecantikan.

Salah yang cute,

Salah dapat salam dari cinta. Kata cinta, salah harus percaya, dunia dan semesta mengirim doa agar salah memiliki hati yang terbuka. Salah juga dapat salam dari rindu. Kata rindu, salah harus maju, lihatlah awan itu seakan ingin mengatakan jiwamu tak boleh layu. Terakhir salah dapat salam lagi dari sayang. Kata sayang, salah harus berdoa, agar dijauhkan dari kesalahan.

Salam cinta, rindu, dan sayang untuk salah.

Selalu salah tak berarti cinta, rindu, dan sayang selalu menyalahkanmu.

Ada yang lebih tahu. Ada yang lebih mengerti. Dan ada yang selalu memberi arti.

Kamu tidak pernah sendiri. Ada cinta, rindu, dan sayang. Percayalah!

Surat Kedua

Standar

Hai,

Masih di sana kan? Hehe…

Kamu baik-baik ya, jaga kesehatan. Udah Februari aja, nih! Semoga di Februari ini kamu makin kece. Amin.

Kalau aku, sih, di Februari ini punya seabrek tugas. Semuanya udah pada manggil-manggil buat dikerjain. Huftt! Tapi nggak apa, aku suka kok sama tugas-tugas aku. Kan, kamu yang bilang kalau tugas itu harus dicintai juga seperti mencintai kamu. Yupz!

Kamu gitu juga nggak? Banyak tugas? Sini, sini, sini, biar aku bantuin. Eh, tapi gimana ya, lagian nggak bisa juga kan, hmm…tenang, kita kerjain masing-masing aja yakh^_^aku bantuin lewat doa aja. Peace!!! Hihihi…

Surat kemarin udah sampai belom? Kata Mbak pos yang ngirim surat aku sih bilang udah dikirim. Mungkin lagi diperjalanan gitu kali ya. Hahaha….Mbak posnya baik banget loh sama aku, ettss….tapi kamu jangan jatuh cinta pula ya sama dia. Peace lagi!!

Surat-suratku Mbak pos yang ngirim. Nanti dia kirim surat yang ini lagi buat kamu. Semoga kamu senang, ya. O ya, kita doakan juga yuk, buat Mbak pos yang ngirim surat aku ini cepat dapet jodoh. Hehehe….dan saling mendoakan semoga kita juga berjodoh. Amin.

Sengaja surat kedua ini lagi-lagi buat kamu. Surat yang tak lekang oleh waktu.

Biarlah musim hujan berganti musim kemarau. Biarlah daun-daun gugur menyisakan rindu. Biarlah burung-burung terbang bernyanyi merdu. Biarlah kupu-kupu menari diatas bunga yang indah itu. Aku dan kamu percaya semua itu. Betapa cinta, mengurai cita-cita. Betapa cinta, mampu menguatkannya.

Sampai disini dulu ya, kita bercengkrama. Nanti kita lanjutkan saja. Lewat doa-doa.

Sampai jumpa.

Pasti Bertemu Untuk Bertamu

Standar

Hai,

Sudah lama ya, kita tidak bertemu. Kamu apa kabar? Ah, aku lupa, bukankah bertanya tentang kabarmu, selalu aku lakukan setiap hari. Bahkan setiap detik, menit, dan jam. Namun, kabarmu tak kunjung berkabar.

Kamu lagi dimana? Ah, ini lagi. Yang kutahu kita masih berada di bumi yang sama. Dimana pun kamu, aku selalu berdoa kita masih bisa bertemu.

Kalau kamu membaca suratku ini, apa ya reaksimu? Galau. Bingung. Atau malah semakin jauh agar kita tak bertemu lagi. Ah, Semoga kamu tak begitu.

Oh, ya, aku dengar, kamu sedang liburan panjang. Asyik ya? Oh no, aku tahu meskipun kamu sedang merasakan liburan saat ini, semakin kamu rajin ikut ini itu. Ya kan? Aku memang nggak pernah ikut-ikut kegiatanmu, tapi aku akan selalu mendukungmu.

Kamu mau tahu, cerahnya hari ini membawa rindu. Rindu untuk bisa bertemu denganmu. Rindu yang membawa waktu semakin maju. Rindu yang luasnya bagaikan langit dan bumi. Tersebar kesemua lini. Hati-hati ya kamu disana. Selalu waspada. Mata. Jaga. Kamu pasti bisa.

Ah, aku jadi malu. Mengingat pertemuan pertama itu. Berawal dari tipu-tipu, aku jadi kenal kamu.
Aku ikut kegiatan ini, kamu ikut kegiatan itu. Aku wawancara kamu, kamu narasumberku.
Aku canggung. Kamu merayu. Mati aku.
Aku mengeja kata. Kamu melengkapkannya.
Aku terlambat mengumpulkan berkas. Kamu yang memasukkan kedalam tas.
Aku salah tugas. Kamu yang membimbingku sampai tuntas.

Oh, oh, oh…pipiku merona. Tapi kamu dimana? Opps, ya kamu disana. Aku lupa.

Jarak yang memisahkan tak akan menjadi penghalang pertemuan selanjutnya. Aku percaya, Tuhan punya rencana untuk kita. Seperti kejutan rahasia. Menjaga rasa dengan memohon Pada-Nya. Seakan jarak itu tak pernah ada.

Saat waktunya tiba, kita membawa seribu cerita. Dari masa kemasa. Bercanda. Bersama dengan cinta.

Pertemuan untuk selanjutnya akan ada. Ya, kita pasti bertemu. Bertemu mengulang cerita kita masa itu. Namun, kali ini berbeda. Kamu datang untuk bertamu pada keluargaku. Dulu kamu bilang begitu. Rasanya badanku kaku. Bibirku kelu. Kulihat kamu sedang tidak bercanda ataupun bermain kata. Rasanya juga bukan mimpi, tapi nyata. Kau benar-benar ada. Tersenyum menatapku manja. Kamu jujur apa adanya. Aku sadar aku bukan siapa-siapa. Aku bergetar menjawab iya. Hatiku berbunga-bunga.

Ah, lagi-lagi jarak memberi jeda. Kamu dimana?

Jawabya?

Nanti akan kukirim surat cinta lagi padamu. Ah, aku rindu
Rindu ini membunuhku. Kamu dimana?

Tertanda,

Dari aku yang tak tahu kamu dimana.

Hari Minggu dan Perkenalan Pertama

Standar

Nulis dihari MingguHuaaa….hari ini udah hari yang ke-9 di bulan Agustus tahun 2015. Kenapa gue kok ngerasa ketakutan? Yup, itu karena gue belom dapet kerja. Meski hari ini hari Minggu, gue harus tetap eksis dong! Tetap nulis dan tetap cantik Eh…….

Hari Minggu itu hari termalas. Maksudnya gue males mau ngapa-ngapain. Menyapa embun pagi aja gue cuekin. Apalagi menyapa indahnya dingin. Padahal gue harusnya pagi itu olahraga biar makin berisi, eiitss ini apa-apaan sih, kok gue bahas badan gue yang makin kereeeen………….peng ini kwkwkkwkw….(klo ini gak bener, piis!)

Selama hari Minggu ini gue belum buat jadwal. Ya jadwal sehari-hari gitu. Tapi tungguin aja tulisan apa yang bakalan gue tulis untuk hari ini nanti. He, kok gue kayak orang terkenal aja ya, padahal kan gue bukan siapa-siapa. Gua hanya manusia biasa. Yang tak luput dari khilaf dan salah. Hehehe…maapin gue ya.

Klo mau jadi penulis harus rajin nulis. Ya kan? Walau mendekam dirumah, biar sehat jauh dari asap, gue harus produktif dong, ya kan? Bagi yang gak tau asap itu apa dan dimana. Nih, biar gue ceritain. Gue tinggal di daerah Riau. Lebih tepatnya gue tinggal di daerah Kampar. Tapi asal kalian tahu aja ya, heheiii gue sebenarnya lebih dekat ke Pekanbaru. Gue tinggal di perbatasan Kampar-Pekanbaru. Dua menit dari rumah gue itu udah kawasan Pekanbaru. Kemana-mana gue selalu ke Pekanbaru gak pernah ke Kampar. Hah, meskipun begitu mau Pekanbaru atau Kampar, gue tetep merasakan asap. Hahahah….syukuri aja kan, semoga aja ada hikmahnya. Dan yang membakar-bakar sehingga timbulnya asap cepat tobat. Amin!.
Sampai disini dulu ya, perkenalan Minggu ini tentang gue. Kapan-kapan kita lanjutin lagi. See you again. Ntah kapan-kapan kita bisa bertemu. Insyaallah akan ada waktu yang tepat buat kita saling menyapa dan bercerita ria.

Sebelum gue tutup tulisan ini, gue mau ngucapin sesuatu. Selamat kepada Ibu Calon Mertua atas gelarnya. Tetap menjadi Ibu yang dibaggakan keluarga. Berguna bagi Nusa bangsa dan agama. Satu lagi semoga Ibu calon Mertua ngingatin anaknya bisa nyelesein skripsinya. Bisa segera ujian dan gue bisa dengar kabarnya suatu hari nanti tahun 2016 anak kesayangan Ibu bisa WISUDA. Amin!

Salam hangat untuk Ibu Calon Mertua dan Calon jodohku yang entah dimana^_^