PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN HADITS

Standar

Periodesasi Pertumbuhan Hadits terdiri dari:
1. Masa Nabi, yaitu kenabian hingga beliau wafat pada tahun 11 Hijriyah
Nabi di kenal sebagai panutan dan beliau adalah sosok pembawa risalah kenabian.Selain itu belia sebagai tokoh masyarakat, pemimpin, panglima perang, kepala rumah tangga. Bagi para sahabat, memandang Rasul tidak sekedar mengisahkan kembali pengamatan mereka, tetapi apa yang mereka dapatkan dari Rasul benar-benar menjadi petunjuk dan pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
a. Cara Rasul Menyampaikan Hadis
Hadis dalam masa Rasulullah memiliki satu keistimewaan dibandingkan hadis pada masa sahabat dan pada masa tabi’in yaitu hadis pada masa Rasulullah diperoleh secara langsung dari Nabi sendiri tanpa harus ada perantara dan tanpa menggunakan Hijab. Sehingga apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Nabi dapat disaksikan langsung oleh para sahabat.Oleh karena itu, sebagi umat manusia harus mengikuti ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi karena dalam setiap perkataan, perbuatan dan taqrir beliau merupakan perintah bagi kita sebagai umatnya. Allah berfirman :
”Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)”. (QS. Al Najm (53) : 3-4).
Menurut riwayat Bukhari Ibnu Mas’ud pernah bercerita bahwa untuk tidak melahirkan rasa jenuh dikalangan para sahabat, rasulullah menyampaikan hadisnya dengan berbagai cara, sehingga membuat para sahabat selalu ingin mengikuti pengajiannya. Ada beberapa cara Rasulullah menyampaikan hadis, yaitu :
• Melalui para jama’ah pada pusat pembinaannya yang disebut majelis Al-Ilmi.
• Menyampaikan hadisnya melalui para sahabat tertentu yang kemudian disampaikan kepada orang lain.
• Melalui ceramah atau pidato di tempat terbuka, seperti ketika Haji Wada’ atau Futuh Makkah.
b. Perbedaan Para Sahabat Dalam Menguasai Hadis
Semua sahabat umumnya menerima hadis dari Nabi SAW, akan tetapi masih ada sedikit perbedaan dalam pengetahuannya. Ada yang pengetahuannya lebih dan ada juga yang sedikit. Ini diakibatkan karena beberapa hal yaitu ;
• Perbedaan mereka dalam soal kesempatan bersama Rasul
• Perbedaan mereka dalam soal kesanggupan bertanya kepada sahabat lain.
• Perbedaan mereka kerena perbedaannya waktu masuk islam dan jarak tempat tinggail dari masjid Rasul SAW.
Ada beberapa sahabat yang tercatat sebagai sahabat yang banyak menerima hadis dari Rasul SAW dengan beberapa penyebab yaitu :
• Yang mula-mula masuk Islam yang dinamai as sabiqunal awwalun, seperti khulafa Empat dan Abdullah Ibnu Mas’ud
• Yang selalu berada di samping Nabi dan bersungguh-sungguh manghafalnya, seperti Abu Hurairah.
• Yang lama hidupnya sesudah Nabi, dapat menerima hadis dari sesama sahabat, seperti Anas ibn Malik dan Abdullah Ibnu Abas.
• Yang erat hubungannya dengan Nabi, seperti Aisyah dan Ummu Salamah.
c. Menghafal Dan Menulis Hadis
• Menghafal Hadis
Para sahabat dalam menerima hadis dari nabi berpegang pada kekuatan hafalannya.Ini juga dilaksanakan untuk menjaga kemurnian dan mencapai kemaslahatan Al Qur’an dan Hadis sebagai dua sumber utama hukum Islam.
Ini juga untuk menjaga agar Al Qur’an tidak bercampur dengan hadis seperti dalam Riwayat Muslim :
ﻻ ﺘﻜﺘﺒﻭﺍﻋﻨﻲ ﻭﻤﻥ ﻜﺘﺏ ﻋﻨﻲﻏﻴﺭﺍﻠﻗﺭﺁﻥ ﻔﻠﻴﺤﻪ ﻭﺤﺩﺜﻭﺍﻋﻨﻲ ﻭﻻﺤﺭﺝ ﻭﻤﻥ ﻜﺫﺏﻋﻠﻲ ﻤﺘﻌﻤﺩﺍ ﻓﻠﻴﺘﺒ ﻭﺃ ﻤﻗﻌﺩ ﻤﻥ ﺍﻠﻨﺎ ﺭ﴿ﺭﻭﺍﻩﻤﺴﻠﻡ﴾
”Janganlah kalian tulis apa saja dariku selain Al Qur’an, barang siapa yang telah menulis dariku selain Al Qur’an, hendaklah dihapus. Ceritakan saja apa yang diterima dariku, ini tidak mengapa. Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja hendaklah ia menempati tempat duduknya dineraka”.(HR Muslim)
Oleh karena itu sahabat Nabi pada saat itu tidak pernah menulis apa yang disampaikan Nabi selain Al Qur’an. Dan apa yang disampaikan oleh Nabi diingat secara sungguh-sungguh oleh para sahabatnya. Ada dorongan kuat yang cukup memberikan motivasi kepada para sahabat dalam kegiatan menghafal hadis ini.Pertama,karena kegiatan menghafal merupakan budaya bangsa Arab yang telah diwarisinya sejak Praislam dan mereka terkenal kuat hafalannya.Kedua, Rasul SAW banyak memberkan spirit melalui doa-doanya.Ketiga, Seringkali Ia menjanjikan kebaikan akhirat kepada mereka yang menghafal hadis dan menyebarkannya kepada orang lain.
• Menulis Hadis
Semua penulis sejarah Rasul, ulama hadits barpendapat untuk menetapkan bahwa Al-Qur’an mendapat perhatian penuh dari rasul dan dari sahabat. Adanya hadis yang di atas tadi tidak menghalangi adanya para sahabat yang menulis hadis dengan cara tidak resmi, akan tetapi dalam Riwayat HR Bukhari tertulis bahwa : Ada seorang sahabat Nabi yang bernama Abdullah Ibn Amr-’Ash memiliki catatan hadis nabi yang menurut pengakuanya dibenarkan oleh Rasul SAW sehingga dinamakan dengan Al-Sahifah. Menurut suatu riwayat diceritakan, orang-orang Quraisy mengeritik sikap Abdullah ibn Amr, karena selalu menulis apa yang datang dari Rasul SAW, mereka barkata :”Engkau tuliskan apa saja yang datang dari Rasul, padahal Rasul itu manusia, yang bisa saja bicara dalam keadaan marah”. Kritik ini disampaikan kepada Rasul SAW, dan Rasul menjawabnya dengan mengatakan :
ﺍﻜﺘﺏﻓﻭﺍﻠﺫﻯﻨﻓﺴﻲﺒﻴﺩﻩﻤﺎﻴﺤﺭﺝﻤﻨﻪﺍﻻﺍﻠﺤﻕ﴿ﺭﻭﺍﻩﺍﻠﺒﺨﺎﺭﻯ﴾
”Tulislah !demi zat yang diriku berada di tangan-Nya, tidak ada yang keluar dari padanya kecuali yang benar”. (HR Bukhari).
• Mempertemukan dua hadis yang bertentangan
Dengan melihat dua kelompok hadis yang kadang-kadang bertentangan, mengundang para ulama untuk mencarikan jalan keluanya. Ada beberapa pendapat para ulama tentang penyelesaian dua hadis yang bertentangan yaitu dengan cara menggugurkan salah satunya sehingga hanya menggunakan satu hadis sebagai acuan seperti dengan jalan nasikh dan mansuk, dan ada juga para ulama yang mencoba untuk menyadupadankan dua hadis tersebut menjadi satu sehingga keduanya dapat digunakan (Ma’mul).
2. Masa Khulâfa ar-Râsyidin, dikenal dengan masa pembatasan riwayat.
Shahabat menerima Hadits dengan:
• Mendatangi pengajian yang dilakukan oleh Nabi
• Bertanya tentang berbagai persoalan
• Nabi membenarkan prilaku Shahabat
• Menyaksikan langsung perbuatan Nabi tentang sesuatu.
Sahabat Yang Banyak Menerima Hadits dari Rasulullah SAW:
• Al-Sabiqun al-awalun (yang mula-mula masuk islam). Seperti Abubakar, Umar Bin Khatab, Usman Bin Affan, Ali Bin Abi Thalib dan Ibnu Mas’ud.
• Ummahad Al-Mukminin (isteri-isteri rasulullah SAW), seperti Siti Aisyah dan Ummu Salamah. Mereka lebih dekat denga Rasulullah SAW dari pada isteri lainnya.
• Para sahabat yang selalu dekat dengan Rasulullah SAW dan juga menuliskan hadits-hadits yang diterimanya, seperti Abdullah Bin Amr Al-As.
• Sahabat yang tidak lama bersama Rasulullah SAW, tetapi banyak bertanya kepada sahabat lainnya dengan sungguh-sungguh seperti Abu Hurairah.

Shahabat yang banyak meriwayatkan Hadits:
• Abu Hurairah (wafat 59 H) meriwayatkan 5.374 hadis.
• Abdullah ibn Umar (wafat 73 H) meriwayatkan hadis 2630 Hadis.
• Anas ibn Malik (wafat 93 H) meriwayatkan 2286 hadis.
• A`isyah binti Abu Bakar (wafat 58 H) meriwayatkan 2286 hadis.
• Jabir ibn Abdullah (wafat 78 H) meriwayatkan 1540 hadis.
• Abu Sa`id al–Khudri (wafat 74 H) meriwayatkan 1170 hadis
Alasan para sahabat Nabi untuk menerima dan menyampaikan hadis
Pertama, Dinyatakan secara tegas oleh Allah dalam al-Qur’an, bahwa Nabi Muhammad adalah panutan utama (uswah hasanah) yang harus diikuti oleh orang-orang beriman dan sebagai utusan Allah yang harus ditaati oleh mereka.
Kedua, Allah dan Rasul-Nya memberikan penghargaan yang tinggi kepada mereka yang berpengetahuan.Ajaran ini telah mendorong para sahabat untuk berusaha memperoleh pengetahuan yang banyak, yang pada zaman Nabi, sumber pengetahuan adalah Nabisendiri.
Ketiga,Nabi memerintahkan para sahabatnya untuk menyampaikan pengajaran kepada mereka yang tidak hadir. Nabi menyatakan bahwa boleh jadi orang yang tidak hadir akan lebih paham daripada mereka yang hadir mendengarkan langsung dari Nabi. Perintah ini telah mendorong para sahabat untuk menyebarkan apa yang mereka peroleh dari Nabi.
Setelah melihat perkembangan penyebaran hadis pada masa itu, Nabi khawatir.
Kekhawatiran dinyatakan langsung oleh Nabi dengan sabdanya:“Janganlah kalian tulis apa yang kalian dengan dariku, selain al-Qur’an.Barangsiapa yang telah menulis sesuatu yang selain al-Qur’an hendaklah dihapus” (HR. Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri).
Periode kedua sejarah perkembangan hadis adalah masa sahabat, khususnya pada masa Khulafa’Al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar ibn Khatab, Usman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib) yang berlangsung sekitar 11 H sampai 40 H.
a. Abu Bakar al-Shiddiq
Menggunakan Metode al-Syahadah.Menurut Muhammad bin Ahmad al-Dzahabi (w.1347 M), Abu Bakar merupakan sahabat Nabi yang pertama-tama menunjukkan kehati-hatiannya dalam periwayatan hadis. Misalnya; kasus waris seorang nenek yang meminta hak waris dari harta ynag ditinggalkan oleh cucunya.Abu Bakar menyatakan tidak ada petunjuk al-Qur’an dan praktek Nabi yang memberikan bagian harta waris kepada nenek.Abu Bakar lalu bertanya kepada para sahabat. Al-Mughirah bin Syu’bah menyatakan kepada Abu Bakar, bahwa Nabi telah memberikan bagian waris kepada nenek sebesar seperenam bagian. Al-Mughirah mengaku hadir ketika Nabi menetapkan demikian itu. Lalu Abu Bakar meminta agar al-Mughirah menghadirkan seorang saksi dan Muhammad bin Maslamah memberikan kesaksian atas kebenaran pernyataan al-Mughirah itu.Abu Bakar telah membakar catatan-catatan hadis miliknya. Aisyah, menyatakan bahwa Abu Bakar telah membakar catatan yang berisi sekitar lima ratus hadis. Menjawab pertanyaan A`isyah, Abu Bakar menjelaskan bahwa dia membakar catatannya itu kerna ia khawatir berbuat salah dalam periwayatan hadis.
b. Umar ibn Khatab
Menggunakan Metode al-Bayyinah.Umar pernah melarang Ibnu Ka`ab, Abu Musa al-Asy`ari, al-Mughirah ibn Syu`bah dan lain-lain untuk meriwayatkan Hadits.Misalnya, ketika Umar mendengar hadis yang disampaikan oleh Ubay bin Ka’ab, Umar baru bersedia menerima setelah para sahabat yang lain, seperti Abu Dzar membenarkan hadits Ubay tersebut. Akhirnya Umar berkata kepada Ubay :”Demi Allah, sungguh saya tidak menuduhmu telah berdusta. Saya bertindak demikian karena saya ingin berhati-hati dalam periwayatan hadis Nabi”.Contoh lain adalah peristiwa Abu Musa al-Asy’ari yang berkunjung kerumah Umar bin Khatab.Selain itu, pada zaman Umar, Abu Hurairah pernah menyatakan, “Sekiranya dia banyak meriwayatkan hadis pada zaman Umar, niscaya dia akan dicambuk oleh Umar”.

c. Usman bin Affan
Usman tidaklah setegas langkah Umar ibn Khatab.Ahmad ibn Hanbal meriwayatkan hadis Nabi dari Usman sekitar empat puluh hadis.Itupun banyak matan hadis yang terulang.Karena perbedaan sanad. Matan hadis yang banyak terulang itu adalah hadis tentang cara berwudhu`.
d. Ali bin Abi Thalib
Metode al-Istikhlaf.Ali meminta untuk bersumpah, jika hadits yang ditemui tidak darisumber yang terpercaya.Jika sumbernya dipercaya, Ali tidak meminta untuk bersumpah.Terhadap Abu Bakar, Ali tidak memintanya untuk bersumpah. Dalam suatu riwayat ali Menyatakan.”Abu Bakar telah memberitahukan hadis Nabi kepada saya, dan benarlah Abu Bakar itu.Dalam kasus lain, Abu Hurairah pernah meriwayatkan hadis “Barangsiapa junub hingga subuh, maka puasanya tidak berguna”. Setelah berita itu sampai kepada ‘Aisyah, ia menolak hadis tersebut seraya mengatakan bahwa ketika Nabi berpuasa, ia mandi jinabat setelah masuk waktu Subuh, kemudian Shalat dan berpuasa mendengar kritik itu Abu Hurairah menyerah dan mengatakan bahwa ‘Aisyah lebih mengetahui persoalan ini, dan mengatakan bahwa ia tidak mendengar langsung dari Nabi, tetapi dari sahabat lain.
3. Hadits pada Periode Ketiga (Masa Sahabat Kecil – Tabi’in Besar)
a. Masa Penyebarluasan Hadits Sesudah masa Khulafa’ al-Rasyidin, timbullah usaha yang lebih sungguh untuk mencari dan meriwayatkan hadits. Bahkan tatacara periwayatan hadits pun sudah dibakukan. Pembakuan tatacara periwayatan hadits ini berkaitan erat dengan upaya ulama untuk menyelamatkan hadits dari usaha-usaha pemalsuan hadits. Kegiatan periwayatan hadits pada masa itu lebih luas dan banyak dibandingkan dengan periwayatan pada periode Khulafa’ al-Rasyidin. Kalangan Tabi’in telah semakin banyak yang aktif meriwayatkan hadits.
b. Tokoh-tokoh dalam Perkembangan Hadits
Pada masa awal perkembangan hadits, sahabat yang banyak meriwayatkan hadits disebut dengan al-Muktsirun fi al-Hadits, mereka adalah:

a. Abu Hurairah meriwayatkan 5374 atau 5364 hadits
b. Abdullah ibn Umar meriwayatkan 2630 hadis
c. Anas ibn Malik meriwayatkan 2276 atau 2236 hadits
d. Aisyah (isteri Nabi) meriwayatkan 2210 hadits
e. Abdullah ibn Abbas meriwayatkan 1660 hadits
f. Jabir ibn Abdillah meriwayatkan 1540 hadits
g. Abu Sa’id al-Khudry meriwayatkan 1170 hadits.
Sedangkan dari kalangan Tabi’in, tokoh-tokoh dalam periwayatan hadits sangat banyak sekali, mengingat banyaknya periwayatan pada masa tersebut, di antaranya:
1. Madinah
• Abu Bakar ibn Abdu Rahman ibn al-Harits ibn Hisyam
• Salim ibn Abdullah ibn Umar
• Sulaiman ibn Yassar
2. Makkah
• Ikrimah
• Muhammad ibn Muslim
• Abu Zubayr
3. Kufah
• Ibrahim an-Nakha’i
• Alqamah
4. Bashrah
• Muhammad ibn Sirin
• Qotadah
5. Syam
• Umar ibn Abdu al-Aziz (yang kemudian menjadi khalifah dan memelopori kodifikasi hadits)
6. Mesir
• Yazid ibn Habib

REFERENCE

Suparta, Munzier. Ilmu Hadits. 2002. Jakarta. Penerbit: Raja Grafindo Persada
http://kmrusuk.blogspot.com/2012/11/makalah-tentang-sejarah- pertumbuhan.html?zx=130e2fdf49c8c8e
http://wwwmj67.blogspot.com/2012/01/sejarah-pertumbuhan-dan- perkembangan.html
http://podoluhur.blogspot.com/2009/02/sejarah-perkembangan-dan- pertumbuhan.html
Slide Studi Hadits

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s