Sesungguhnya Allah Bersama Kita

Standar

Innallaha ma’ana. Sesungguhnya Allah bersama kita.
Pagi ini, hujan turun lebat. Lebat sekali, sehingga aku harus telat ke kantor desa. Lah! Ngapain ke kantor desa? Iya, ada urusan membuat surat keterangan tidak mampu. Yes! Kamu udah tahu kan. Sekarang ada yang mau aku ceritakan. Miris. Miris banget. Sampai-sampai aku hari ini pengen nangis aja bawaannya, sangking gak sanggupnya menerima sikap mereka.
Dari awal aku ceritakan. Begini ceritanya.
“Bang, buat surat keterangan tidak mampu sama siapa ya?” tanyaku kepada petugas kantor kepala desa yang sedang duduk sambil berbincang-bincang dengan seorang tamu. Kira-kira umur petugas kantor yang kutanya itu sekitar 30-an.
“Oh, buatnya sama Pak Juli namanya. Tunggu aja”
“Kira-kira lama gak bang bapak itu datangnya?”tanyaku lagi
“Mungkin bentar lagi. Tunggu aja. Siapin aja persyaratannya, KTP sama Kartu Keluarga” jawabnya dengan tegas.
“Udah bang. Ya lah saya tunggu di luar aja” kataku sambil berlalu pergi.
Sampai diluar, aku bilang ke nyokap kalau buatnya dengan Pak Juli namanya. Tapi orangnya belum datang. Nyokap hanya diam dan matanya menuju ke pohon mangga yang lebat buahnya. Mungkin nyokap pengen punya pohon mangga yang lebat kayak gitu, selain itu pohonnya pendek pula sehingga sangat mudah untuk memetik buah tersebut.
Kemudian aku cek Hape. Ada SMS. Dari Cik Ocha. Bunyinya”Cui mu kekampus gak nanti?”
Kemudian langsung aku balas dan SMS terkirim. Mantap. Ini udah jam 09.00 pagi. Tapi masih ada juga petugas yang belum datang. Dalam hati aku berkata” memang kerja kantoran hanya makan gaji tanpa mematuhi jam kerja yang telah ditetapkan.
Beginilah yang namanya pegawai. Semau dia aja kerja. Hanya mentingin diri pribadi tanpa ada sedikitpun peduli dengan kepentingan masyarakat yang sangat memerlukan bantuan dia. Tapi ya sudahlah, dimana-mana aku menemukan semua pegawai kantoran gak ada yang ramah, gak ada empatinya sama orang lain, gak sabaran, dan selalu cemberut. Coba aja lihat. Aku berani taruhan kalo ada pegawai kantoran yang baik, itu mungkin hanya ada satu banding seribu di Indonesia ini. Dari pegawai kantor Gubernur, kantor Camat, kantor Kepala Desa, Kantor Rektorat Universitas, Kantor Fakultas, Kantor Perpustakaan, dan lain-lain semuanya gak ada yang baik menurut aku. Rata-rata hanya mementingkan kepentingan pribadi deh pokoknya. Mereka gak peduli dengan diri kita yang lagi butuh banget bantuan dia, padahal mereka kan di gaji, tapi bekerja kebanyakan gak becus, sembrono, suka-suka dia sendiri, jam ngaret, makan gaji buta, yang pastinya banyak dosa. Hah!!! Aku memang habis sakit hati, tapi rasa sakit hati ini hanya tersimpan didalam hati. Akulah orang yang terzhalimi. Mungkin dari kita semua pasti pernah merasakan sakit hati dari sikap para pegawai-pegawai kantoran yang aku sebutkan tadi. Maaf, kalau ada yang tersinggung, tapi lebih baik silahkan anda cek jika opini yang saya buat ini tidak sesuai dengan yang sebenarnya.
Deghh! Mati lampu!
Whatss???
Apa???
Muncul lagi masalah baru. Mati lampu. Ini kabar baik atau buruk aku gak tahu. Yang pasti sangat membuat aku pingin nangis. Karena sangat-sangat butuh buat surat keterangan tidak mampu itu. Itu syarat penting. Untuk apa? Ada deh….
Gimana nih! Aku berpikir keras. Haduh…kok bisa mati lampu sih. Gimana nih. Bingung. Bingung………………………
Aku bilang kenyokap kita tunggu aja lah sampe lampunya hidup. Nyokap bilang iya. Karena aku ngajak nyokap nemenin aku ke kantor kepala desa ini. Aku nungguin sampe jam 10.00 pagi. Lampu belum idup juga.
Tiba-tiba petugas tempat aku bertanya tadi nyamperin. Dia bilang gini “lampunya mati, kayaknya lama, lebih baik hari senin aja lagi kesini. Kalau hidup lampu bisa saya buatkan” katanya.
Apa????????????????????????????????????????
Dia bilang gitu, tanpa sadar aku ini dari tadi nunggu ngapain. Dan dia kalo bisa buatkan kenapa gak bilang dari tadi, pake bilang Pak Juli yang tugasnya buat itu. Trus dia anggap aku patung apa. Aku ini masyarakat yang butuh bantuan mereka. Aku memang dari keluarga yang biasa-biasa saja. Bukan aku mengatakan aku tidak mampu, tapi aku memang termasuk orang yang tergolong sulit masalah keuangan, terutama uang buat bayar kuliah yang sampai sekarang masih kakak aku yang bayarin.
Astaghfirullah…………..apa salah dan dosaku?apakah ini akibat aku nyuekin orang yang tadi malam mau kenalan denganku tapi aku jutekin. Terus akibatnya aku yang balik di cuekin dan dijutekin orang? Ya Allah…aku berlindung pada-Mu. Maafkan aku.
Rasanya seluruh darahku naik dan ingin menampar petugas itu dengan sepatunya yang mengkilat itu. Ya Allah…begitukah sikap manusia dengan manusia yang lainnya. Dimana manusia yang baik itu bisa kutemukan Ya Allah….
Dengan tanpa rasa bersalah dia masuk kemobil Grand Livinanya melaju keluar pagar kantor kepala desa. Entah kemana. Entahlah. Aku hanyalah manusia yang merasa tersakiti.
Dengan rasa kesal, marah didalam hati, aku titipkan persyaratannya kepada petugas lain.
“Ini KTP dan Kartu Keluarga saya, kalau hidup lampu tolong bantu saya bapak buatkan surat keterangan tidak mampu tersebut” kataku sambil membawa air mata yang jatuh menetes sampai aku pulang kerumah.
Ingin rasanya teriak sekencang-kencangnya. Ingin rasanya menyalahkan dia. Ingin rasanya menyalahkan dunia. Ya dunia yang hanya sementara ini mengapa begitu sulit untuk mengurus segala hal di kantor-kantor. Dimana engkau Ya Allah…adakah engkau bersamaku saat ini?
Biarlah air mata ini ku bawa sampai dimana hati ini bisa sembuh. Sampai hati ini tenang. Sampai hati ini ikhlas. Berfikir positif lebih baik. Mungkin Allah punya jalan lain untukku yang lebih baik. Bisa jadi Allah membuka pintu rezekiku dan besok walaupun hari sabtu kantor kepala desa tetap buka untukku. Amin. Aku harus menunggu keajaiban itu.
Langsung aku tancap gas ke rumah nganterin nyokap pulang. Abis itu kekampus buat melanjutkan ngurus transkip nilai. Disini masalah datang lagi. Tempat aku ngurus transkip nilai itu di kantor fakultas. Tepatnya di bagian akademik. Bagian akademik ini salah satu kantor yang orang-orangnya sama saja seperti yang lainnya. Lebih mementingkan diri sendiri dari pada kepentingan mahasiswa yang butuh pelayanan yang terbaik. Tetapi walau bagaimanapun aku masih butuh mereka, karena tanpa mereka aku gak bisa ngurus apapun karena hanya dia yang punya wewenang.
Anggap saja nama orang yang tempat aku mengurus transkip nilai itu bernama Jai.
Waktu aku dan temanku Ijum datang, dia bilang gini.
“Kan abang bilang pagi-pagi. Abang tunggu pagi-pagi gak ada yang datang”
“Iya bang, karena kami ngurus surat keterangan tidak mampu dikantor kepala desa tadi, jadi kami urus itu dulu bang” jawab Ijum.
“Sekarang masalahnya nilai Lintas Budaya yang sama buk Deceu itu belum pasti, harus tanya ke Wakil Dekan dulu”
Itu nilai ku. Tapi aku udah nanya langsung ke Wakil Dekan, beliau bilang kalau nilai yang dipakai tetap nilai yang disimak.
“Udah bang, kata ibuk Ms nilainya yang A aja” jawabku
Lalu si Jai ngeprint transkip nilaiku dan nilai Ijum.
“Ini lihat tulisan tanggalnya gak beraturan dan gak rapi. Kayak gini gak bisa”
“Terus bang?” kata kami serentak.
“ Ya ini harus perbaikan dari rektorat dulu baru bisa betul. Masalahnya orang rektorat sekarang lagi rapat, abang telpon gak di angkat-angkat dari tadi”
Ya sudahlah ini mungkin bukan jalanku. Hampir saja aku pesimis. Untung ada Ijum yang aku sangat salut dengannya. Dia tegar dan punya rasa percaya diri yang tinggi.
“Kalau gak kami tanyakan aja sama Bpk M bang, boleh gak kalau kayak gini bentuk transkip nilainya” jawab Ijum.
“ Tanyalah”
Kami langsung naik ke lantai 2. Bpk M tidak terlalu sibuk, kayaknya mau siap-siap pergi shalat jum’at.
“Pak, kalau transkip nilainya bentuknya kayak gini boleh gak pak?
“Saya kurang tau, tanya aja sama Pak Kh ya”
“Oh..ya pak. Makasih ya pak”
Langsung kami ketempat Bapak KH yang satu ruangan dengan si Jai itu. Kemudian Bapak Kh bilang kalau mungkin bisa, saya lihatkan dulu dengan Bapak Dekan. Kami menunggu. Menunggu sesuatu yang masih abu-abu. Antara pasti dan tidak pasti. Aku tidak tahu aku berharap Allahlah penolongku saat ini. Allah bersamaku, amin.
Sekian lama menunggu, kira-kira satu jam-an. Ketika lihat Bapak Kh keluar langsung kami tanyakan dengan beliau hasilnya. Nihil. Nihil hasilnya.
“Kalian urus hari senin ajalah. Kayak gini bentuk transkip nilainya gak bisa. Tanggal nya tidak rapi. Ini masalah dari rektorat langsung, jadi biar besok Bapak tanyakan lagi.
Dengan hati pasrah. Membawa harapan bisa segera lancar. Tunggu sajalah hari senin itu. Ya hari senin tanggal 16 September 2013. Tunggu aja. Sesungguhnya Allah bersama kita. Percayalah. Rezeki itu pastikan ada untukmu dan untukku.
Ini BS hanya untuk 2 orang. Aku dan Ijum. Amin.
Tolong mudahkanlah urusan kami Ya Allah……Amin Amin Ya Rabbal Alamin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s