Pasti Bertemu Untuk Bertamu

Standar

Hai,

Sudah lama ya, kita tidak bertemu. Kamu apa kabar? Ah, aku lupa, bukankah bertanya tentang kabarmu, selalu aku lakukan setiap hari. Bahkan setiap detik, menit, dan jam. Namun, kabarmu tak kunjung berkabar.

Kamu lagi dimana? Ah, ini lagi. Yang kutahu kita masih berada di bumi yang sama. Dimana pun kamu, aku selalu berdoa kita masih bisa bertemu.

Kalau kamu membaca suratku ini, apa ya reaksimu? Galau. Bingung. Atau malah semakin jauh agar kita tak bertemu lagi. Ah, Semoga kamu tak begitu.

Oh, ya, aku dengar, kamu sedang liburan panjang. Asyik ya? Oh no, aku tahu meskipun kamu sedang merasakan liburan saat ini, semakin kamu rajin ikut ini itu. Ya kan? Aku memang nggak pernah ikut-ikut kegiatanmu, tapi aku akan selalu mendukungmu.

Kamu mau tahu, cerahnya hari ini membawa rindu. Rindu untuk bisa bertemu denganmu. Rindu yang membawa waktu semakin maju. Rindu yang luasnya bagaikan langit dan bumi. Tersebar kesemua lini. Hati-hati ya kamu disana. Selalu waspada. Mata. Jaga. Kamu pasti bisa.

Ah, aku jadi malu. Mengingat pertemuan pertama itu. Berawal dari tipu-tipu, aku jadi kenal kamu.
Aku ikut kegiatan ini, kamu ikut kegiatan itu. Aku wawancara kamu, kamu narasumberku.
Aku canggung. Kamu merayu. Mati aku.
Aku mengeja kata. Kamu melengkapkannya.
Aku terlambat mengumpulkan berkas. Kamu yang memasukkan kedalam tas.
Aku salah tugas. Kamu yang membimbingku sampai tuntas.

Oh, oh, oh…pipiku merona. Tapi kamu dimana? Opps, ya kamu disana. Aku lupa.

Jarak yang memisahkan tak akan menjadi penghalang pertemuan selanjutnya. Aku percaya, Tuhan punya rencana untuk kita. Seperti kejutan rahasia. Menjaga rasa dengan memohon Pada-Nya. Seakan jarak itu tak pernah ada.

Saat waktunya tiba, kita membawa seribu cerita. Dari masa kemasa. Bercanda. Bersama dengan cinta.

Pertemuan untuk selanjutnya akan ada. Ya, kita pasti bertemu. Bertemu mengulang cerita kita masa itu. Namun, kali ini berbeda. Kamu datang untuk bertamu pada keluargaku. Dulu kamu bilang begitu. Rasanya badanku kaku. Bibirku kelu. Kulihat kamu sedang tidak bercanda ataupun bermain kata. Rasanya juga bukan mimpi, tapi nyata. Kau benar-benar ada. Tersenyum menatapku manja. Kamu jujur apa adanya. Aku sadar aku bukan siapa-siapa. Aku bergetar menjawab iya. Hatiku berbunga-bunga.

Ah, lagi-lagi jarak memberi jeda. Kamu dimana?

Jawabya?

Nanti akan kukirim surat cinta lagi padamu. Ah, aku rindu
Rindu ini membunuhku. Kamu dimana?

Tertanda,

Dari aku yang tak tahu kamu dimana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s